Industri Elektronik Indonesia Masih Tergerus Impor, Ini Penyebabnya
CIKARANG, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat neraca perdagangan pada industri elektronik mengalami defisit karena angka produk impor masih mendominasi dibanding ekspor.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengungkapkan, nilai impor industri elektronik pada 2023 lalu adalah US$ 28,38 miliar, sedangkan nilai ekspornya hanya sebesar US$ 14,2 miliar.
"Proporsi produk komponen memiliki nilai hampir setengah dari total impor yaitu 48%. Selanjutnya produk household berkontribusi sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar 6% dari total impor," kata Faisol saat ditemui di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (12/12/2024).
Faisol menjelaskan, beberapa produk peralatan rumah tangga atau house hold di industri elektronik yang paling banyak menyumbang nilai impor di antaranya adalah air conditioner (AC), pompa air, kipas angin, mesin cuci, lampu LED, televisi, kulkas, speaker.
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengungkapkan industri elektronik yang masih digerus oleh impor tersebut lantaran bahan baku untuk produk-produk elektronik masih bergantung pada impor karena belum dapat diproduksi di dalam negeri.
"Bahan baku mungkin ada beberapa yang masih diimpor dan diharapkan perusahaan-perusahaan atau industri-industri di Indonesia memperluas, dan menggunakan potensi yang ada di dalam negeri untuk melakukan substitusi bahan baku impor agar tidak terlalu tergantung kepada bahan baku yang diekspor," bebernya.
Kendati demikian, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini belum mengetahui berapa nilai impor yang bisa ditekan dari pembangunan pabrik AC oleh Daikin ini. Ia mengaku pihaknya akan terus mengawasi produk AC yang masuk secara ilegal.
"Jadi sebaiknya memang perlu ada pembicaraan lebih pasti, dan mengatur agar kebijakan impor khususnya untuk AC itu dihitung berdasarkan kebutuhan pasar domestik secara sungguh-sungguh," tandas Faisol.

