Pengembangan Swasembada Pangan Perlu Dukungan Rekayasa Genetik
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Komisi Tetap Ketahanan Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Hermanto Siregar mengatakan upaya pemerintah untuk merealisasikan swasembada pangan perlu mendapatkan dukungan penting berupa pemanfaatan benih hasil rekayasa genetik.
“Permudah perizinan pengembangan dan pemanfaatan teknologi. Salah satunyauntuk pengembangan benih rekayasa,” kata Hermanto saat diskusi Global and Domestic Economic Outlook 2025 yang digelar Kadin Indonesia, di Menara Kadin, Jakarta, Senin (30/12/2024).
Hermanto mengatakan, sejatinya sudah tersedia dua benih hasil pengembangan rekayasa genetik yang diselesaikan sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Namun, hingga kini, dua benih hasil rekayasa genetik tersebut tak bisa dimaksimalkan pemanfaatannya.
Padahal, lanjut Hermanto, pengembangan rekayasa genetik di bidang pangan telah dilakukan oleh China. Menurutnya Negeri Tirai Bambu tersebut sudah menggunakan jagung dari hasil rekayasa genetik yang mampu menghasilkan panen sebesar 8 hingga 9 ton jagung per hektare.
“Kita sudah beberapa tahun stagnan di 5 ton jagung per hektare,” ucap dia.
Baca Juga
Dari sisi keamanan, benih dari rekayasa genetik juga menurutnya tak terlalu bermasalah. Dia menyontohkan bahan baku tempe dan tahu di Indonesia sejak 20 tahun lalu telah menggunakan kedelai metode rekayasa genetik, dan hingga kini tidak menimbulkan dampak samping bagi para konsumennya.
“Yang kita impor dari Amerika, dari Brazil, Argentina, dan Chile. Itu semua kita makan, dan (kita) masih hidup. Karena betul-betul diteliti,” ujar dia.
Pengembangan benih jagung dari hasil rekayasa genetik disampaikan Hermanto amat penting mengingat jagung saat ii menjadi penopang sektor peternakan unggas. "Kalau produksinya pas-pasan, sedikit saja shock, jagung jadi volatile (harganya),” kata dia.

