Kementerian PU Belum Bisa Pastikan Penerapan Tol Nirsentuh-Nirhenti (MLFF) Hingga Akhir 2024, Kenapa?
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengatakan, pihaknya masih belum membahas kelanjutan dari penerapan sistem bayar tol nontunai, nirsentuh, nirhenti, atau Multi Lane Free Flow (MLFF) hingga akhir tahun 2024.
“Enggak ada omongan (implementasi tol MLFF). Itu ceritanya agak panjang dan dalam,” kata Menteri Dody saat ditemui di Kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Jumat (6/12/2024).
Sebelumnya, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) menargetkan, penerapan sistem bayar tol nontunai, nirsentuh, nirhenti, atau Multi Lane Free Flow (MLFF) bisa dilaksanakan di kuartal I-2025.
Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur RITS, Attila Keszeg saat konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2024) lalu.
“Kami sudah siap untuk kolaborasi, teknologi kami sudah siap. Kami juga merencanakan bahwa sistem ini dapat diimplementasikan pada kuartal I-2025,” katanya.
Terpisah, Direktur RITS Renaldi Utomo Djojohadikusumo menambahkan, target implementasi tersebut tidak terlepas dari dukungan seluruh pihak, baik pemerintah, badan usaha jalan tol (BUJT), hingga masyarakat Indonesia. “Jadi ini tantangan yang tidak mudah, harus bisa berkolaborasi bersama,” tambah dia.
Baca Juga
Renaldi juga menjelaskan, pihaknya telah diberikan arahan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) periode Kepresidenan Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan transisi dalam penerapan sistem MLFF dengan menggunakan palang atau barrier terlebih dahulu.
“Pak Basuki (Menteri PUPR periode 2014-2024) meminta kami untuk mempersiapkan transisi, masih menggunakan barrier. Dan kami sudah beberapa kali melakukan testing itu, namun masih perlu perbaikan dalam berkolaborasi dengan stakeholder terkait,” ujar Renaldi.
Berdasarkan catatan investortrust.id, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengungkapkan, sistem bayar tol nontunai, nirsentuh, nirhenti akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari Tol Bali-Mandara.
“Kita mengusulkan di Desember COD (commercial operation date), ini kita sedang berdiskusi. Uji cobanya (tahap pertama) di Bali-Mandara, kemudian tahap keduanya di tujuh ruas transisi, tapi nanti kita lihat hasil di Bali dulu,” kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PU, Rachman Arief Dienaputra beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, pihaknya tengah berdiskusi dengan RITS selaku badan usaha pelaksana (BUP) program MLFF, yang saat ini masuk ke dalam proyek strategis nasional (PSN).
Baca Juga
Roatex Indonesia Siap Terapkan Sistem Tol MLFF di Kuartal I-2025, Tapi…
Sebelumnya diberitakan, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR telah memilih tujuh ruas tol sebagai implementasi awal MLFF.
Di mana, menurut laman bpjt.pu.go.id, tujuh ruas tol yang akan diujicobakan sistem MLFF tersebut adalah di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Bali.
“Untuk tahap masa transisi sistem MLFF akan diterapkan di beberapa ruas, yang masuk ke dalam perimbangan masa transisi,” tulis keterangan BPJT beberapa waktu lalu.
Adapun ruas tol yang akan diuji sistem MLFF adalah Tol Bali-Mandara, Balikpapan-Samarinda (Balsam), Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi), Jakarta-Cikampek (Japek), Soedijatmo, Dalam Kota Jakarta, dan Ruas Jakarta Outer Ring Road (JORR) 1.
Kementerian PUPR pun menargetkan aplikasi sistem tol MLFF akan dimulai pada semester II-2024. Penerapan dilakukan secara bertahap mulai dari sejumlah ruas tol di Pulau Jawa.
Baca Juga
Anggota DPR Sebut Teknologi MLFF “Odong-Odong”, Begini Respons Menteri BUMN
“MLFF ruas tol akan diterapkan mulai akhir tahun ini. Mungkin implementasi awal di Jawa, kita akan pilih tempatnya dan dilakukan secara bertahap,'' kata (Eks) Direktur Jenderal Bina Marga PUPR, Hedy Rahadian beberapa waktu lalu.
Sebagai informasi, Kementerian PUPR bekerjasama dengan PT RITS akan menerapkan sistem Tol MLFF. Sistem baru ini segera direalisasikan setelah Presiden Joko Widodo meneken Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2024 tentang Jalan Tol yang mengatur implementasi sistem tol MLFF.
Presiden Direktur RITS, Attila Keszeg juga menyampaikan, nilai investasi sistem baru ini berkisar US$ 300 juta atau Rp 4,7 triliun (asumsi kurs Rp 15.825/USD).
“Proyek ini dibiayai penuh oleh pemerintah Hungaria, jadi tidak ada sepeserpun anggaran dari pemerintah Indonesia. Sejauh ini, kita sudah mengeluarkan dana lebih dari US$ 200 miliar untuk mengembangkan sistem (MLFF),” ujar dia.

