Kementerian PU Ungkap Layanan Air Minum Bersih RI Baru Capai 19,76%
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), Diana Kusumastuti mengungkapkan, layanan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) Indonesia baru mencapai 19,76% dari 10 juta sambungan rumah (SR).
''Kalau kita berbicara air minum perpipaan, ini saya sedih belum ada 20%, masih 19,76%, masih jauh dari 100% untuk perpipaan,'' kata Diana dalam acara closing loan National Urban Water Supply Project (NUWSP) di Auditorium PU, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2024).
Khusus di Jakarta, lanjut Diana, layanan Pamsimas baru mencapai 45% dan pemerintah menargetkan bsia tercapai 100% di 2045.
''Kalau di Jakarta, kemarin saya 'mengintip' masih 45% belum 50%. Saya sih berharap 2030 bisa 100%, tapi 2045 target kita,'' ucap dia.
Sebelumnya, Diana mengatakan, anggaran untuk layanan Water, Sanitation, Hygiene (WASH) dan pengelolaan sumber daya air (PSDA) masih terbatas, sedangkan dalam perhitungan Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur (DJPI) Kementerian PU anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 264,3 triliun.
“Ya, Inpres-nya enggak ada duitnya, kemarin kan baru kita dapat Rp 696 miliar. Nah, tahun depan kita baru mengusulkan (tambahan anggaran),” kata Diana saat ditemui di Kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Senin (18/11/2024).
Berdasarkan catatan investortrust.id, Kementerian PU Republik Indonesia bersama Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) telah menggelar acara Indonesia Water, Sanitation, Hygiene (WASH) dan Water Resource Management (WRM) Investment Forum pada Selasa (17/9/2024) di Jakarta.
Forum ini diselenggarakan untuk menarik minat para investor, baik domestik maupun mancanegara, guna mendorong pembangunan infrastruktur air minum, sanitasi dan pengelolaan sumber daya air (PSDA) yang diperkirakan membutuhkan nilai investasi sebesar Rp 264,3 triliun untuk pompanisasi air minum ke 10 juta sambungan rumah (SR) beserta sanitasinya.
Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur (DJPI) Kementerian PUPR, Triono Junoasmono mengatakan, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, akses rumah tangga perkotaan terhadap air minum perpipaan ditargetkan tercapai 100% pada tahun 2045, diikuti dengan target sanitasi aman sebesar 70%.
“Indonesia, dengan populasi sekitar 280 juta jiwa, masih menghadapi tantangan akses air minum perpipaan. Capaian rumah tangga dengan akses air minum perpipaan masih stagnan pada angka 19,76%, cukup rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Filipina 59%, Thailand 71%, Malaysia 95%, dan Singapura 100%,” kata Yongki, sapaan akrab Triono, dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (19/9/2024).
Saat ini, menurut Yongki, target 30% akses air minum perpipaan direncanakan akan dipenuhi melalui program 10 juta SR. Namun hingga saat ini, estimasi capaian baru mencapai 4,46 juta SR dan menyisakan gap 5,54 juta SR.
“Di sisi lain, pada periode 2020-2024, kebutuhan investasi sebesar Rp 123,4 Triliun dibutuhkan untuk memenuhi target 10 juta SR tersebut, dengan proporsi APBN sebesar Rp 77,9 Triliun (63,4%), dan APBD sebesar Rp 15,6 Triliun (13%). Sehingga, terdapat kesenjangan pendanaan sebesar Rp 29,9 Triliun (24%) yang perlu dipenuhi melalui skema pembiayaan alternatif,” ungkap dia.
Sementara pada sektor sanitasi, lanjut Yongki, Indonesia baru mencapai 12% akses sanitasi aman, dari target 30% pada tahun 2024.
“Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan investasi sebesar Rp 140,9 Triliun, dengan proporsi APBN sebesar Rp 73,5 Triliun (52%) dan APBD sebesar Rp 1,7 Triliun (1,2%). Sehingga, terdapat kesenjangan pendanaan sebesar Rp 65,7 Triliun (46,6%) yang perlu dipenuhi melalui skema pembiayaan alternatif,” imbuh dia.
Ia pun mengharapkan dengan diselenggarakannya forum ini dapat membuka peluang kolaborasi bagi investasi di sektor terkait, serta menciptakan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.
“Melalui kemitraan erat dengan USAID IUWASH Tangguh, kami mendorong upaya peningkatan layanan air dan sanitasi di wilayah perkotaan yang rentan, sekaligus memperkuat ketahanan iklim dari layanan penting ini dan pengelolaan sumber daya air kita,” tandas Yongki.

