Investortrust Gandeng BGK Foundation Apresiasi 34 Perusahaan di Ajang CSR Appreciation Night 2024
JAKARTA, investortrust.id - PT Investortrust Indonesia Sejahtera bekerja sama dengan Bumi Global Karbon (BGK) Foundation memberikan apresiasi kepada 34 perusahaan atas pelaksanaan program corporate social responsibility (CSR) dalam ajang CSR Appreciation Night 2024 yang akan diselenggarakan di Jakarta, Kamis (24/10/2024).
Corporate Communication BGK Foundation, Hawra Nahdiyah Ilma menyampaikan, pihaknya telah menyaring program CSR yang dilaksanakan 154 perusahaan berdasarkan sustainability report serta tingkat social return of investment (SROI) dari program CSR yang digelar perusahaan tersebut.
“Kita menilai sebanyak 154 perusahaan terdiri dari perusahaan publik, emiten, BUMN, dan privat. Dan hanya 34 perusahaan yang mengungkapkan SROI-nya mereka ke publik,” ungkap Hawra dalam acara focus group discussion (FGD) Road to CSR Appreciation Night 2024 di kantor Investortrust.id, Jakarta, Kamis (17/10/2024).
Baca Juga
Pengamat Sarankan Pemerintah Bentuk Badan Khusus Agar CSR Tepat Sasaran
“Kita menyaring dari data-data ini, dan akhirnya kita melakukan scoring melalui 33 ESG factor. Dan memang dilihat hanya ada 34 perusahaan yang mengungkapkan ESG (faktor) mereka,” tambah dia.
Menurut Hawra, dari lima bidang program CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan tersebut yakni pendidikan, sosial, lingkungan, kesehatan hingga infrastruktur hanya dua sektor yang mendominasi pelaksanaan program.
“Kebanyakan ke sosial dan pendidikan, karena memang dampak CSR-nya lebih efektif dan bisa diukur. Jadi, bekerja sama dengan UMKM lalu komunitas-komunitas lokal itu terlihat lebih efektif di beberapa perusahaan,” terang dia.
Pada kesempatan yang sama, Distinguished Chair in Finance & Investment IPMI International Business School, Roy Sembel mencontohkan, mengapa program CSR di bidang sosial dan pendidikan lebih berdampak ketimbang di bidang lainnya.
“Jadi selain lebih efektif bisa diukur, juga bisa diberitakan lebih meluas, karena banyak yang terlibat di situ. Jadi jangkauan publikasinya bisa meluas. Kalau misalnya CSR-nya tentang lingkungan, di daerah pedalaman yang nggak ada exposure medianya agak susah (publikasinya). Tapi kalau yang (sektor) pendidikan dan sosial, kemungkinan itu exposure-nya lebih besar dan dampak reputasinya lebih cepat terlihat dan juga bisa lebih efisien,” terang Roy.

