Dirut OASA Tegaskan Pentingnya Hilirisasi Sawit agar Indonesia Jadi Negara Maju
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Bidang Energi Minyak dan Gas Bobby Gafur Umar menyoroti Indonesia yang masih perlu menggenjot hilirisasi sawit dari hulu ke hilir, sebagai potensi Indonesia untuk menjadi negara maju.
Menurutnya, saat ini Indonesia sudah berhasil dalam produksi hulu sawit dan menjadi negara produsen minyak sawit nomor satu di dunia dengan produksi 50 juta ton lebih.
Hal ini disampaikan Bobby saat menanggapi peluncuran buku Saleh Husin, berjudul Hilirisasi Sawit Cegah Middle Income Trap di Gedung Pusat Industri Digital 4.0, Jakarta, Rabu (9/10/2024).
Baca Juga
Anggota DPR Panggah Susanto Soroti Persoalan yang Hambat Hilirisasi Sawit
“Nah kenapa berhasil? Karena kita bisa bangun ekonomi kerakyatan dengan program Inti Plasma. Nah cuman baliknya lagi, kita belum bisa optimalisasi di hilir,” terangnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa saat ini Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk mengejar keluar dari middle income trap, ketika GDP Indonesia masih berada di US$ 4 ribu atau masih jauh dari GDP negara maju atau pendapatan tinggi.
“Kita ini sekarang masih di sekitar US$ 4 ribu pendapatan per kapita. Kalau mau keluar dari masuk ke negara income tinggi, kita baru di tahun 2038, itu US$ 12 ribu. Nah sedangkan demografi kita di tahun 2035 habis nih. Ya jadi kita berpacu dengan waktu,” urainya.
Untuk itu, ia menilai bahwa buku Hilirisasi Sawit Cegah Middle Income Trap yang ditulis Saleh Husin bisa digunakan pemerintah sebagai bagian kajian untuk mengoptimalisasi nilai tambah dari produk sawit.
“Kita jual bahan mentah itu kan kecil sekali (penerimaan untuk negara). Turunan sawit bisa sampai 100 lebih. Biodiesel salah satu. Tapi oleochemicals, kosmetik, dan macam-macam itu banyak sekali,” jelasnya.
Baca Juga
Buku ‘Hilirisasi Sawit Cegah Middle Income-Trap’ Dirilis, Ini Pentingnya Sawit Bagi Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, Bobby juga menyampaikan harapannya bahwa Indonesia bisa menjadi acuan untuk harga sawit dan CPO internasional, dan tak lagi merujuk pada harga acuan dari bursa Malaysia dan Rotterdam.
Asal tahu, bursa CPO telah terbentuk namun harga di bursa ini belum dipakai sebagai acuan harga dalam perdagangan komoditas
“Harusnya kita yang kontrol tuh harga. Jadi ini buku bagus buat pegangan. Kalau bisa nanti mumpung pemerintah mau ditunjuk sebentar lagi, kasih masukan tuh poin-poin ini,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Praktisi bidang telekomunikasi Rudiantara juga menyatakan harapannya agar program hilirisasi sawit semakin digencarkan di Indonesia. Menurutnya, saat ini Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun telah menyatakan komitmennya untuk mengganti bahan bakar yang digunakan untuk pembangkit listrik dari solar, ke arah produk biodiesel atau B30.
“Konsumsi dari solar oleh PLN cukup tinggi, dan solar yang digunakan oleh PLN adalah solar impor. Kemudian, ada kesepakatan dengan pengelola sawit bahwa setelah diluncurkan, B30 dapat langsung digunakan oleh PLN. Namun memang butuh penyesuaian di pembangkit sebab B30 berbeda dengan solar yang digunakan oleh PLN dengan kekentalan tinggi. Harapannya kelistrikan akan terjadi pergeseran (penggunaan bahan bakarnya) ke produk kelapa sawit,” tutupnya.
Sebagai catatan, Menteri Perindustrian RI Periode 2014-2016 Saleh Husin meluncurkan buku bertajuk Hilirisasi Sawit Cegah Middle Income Trap yang menyatakan pentingnya peran hilirisasi dan diversifikasi produk turunan kelapa sawit untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga
Saleh Husin menyatakan kelapa sawit merupakan produk unggulan yang dimiliki Indonesia, karena nilai ekspor sawit bisa mencapai US$ 30 miliar sehingga dapat menguasai pasar global.
"Tidak ada satupun produk Indonesia, hanya ada satu yaitu produk dari sawit yang menguasai pasar dunia," ujarnya dalam Book Launch Seminar: Hilirisasi Sawit Cegah Middle Income Trap, di Jakarta, Rabu (9/10/2024).
Komoditas tersebut juga mampu menyerap jumlah tenaga kerja yang cukup besar, baik langsung maupun tidak langsung hingga sekitar 17 juta orang. Saleh menyatakan dengan melakukan hilirisasi kelapa sawit dapat membantu Indonesia keluar dari middle income trap.
Untuk itu, buku ‘Hilirisasi Sawit Cegah Middle Income-Trap’ turut menjelaskan saran-saran pengembangan sawit agar tidak diekspor mentah saja. Melainkan diolah di dalam negeri sehingga menghasilkan nilai tambah yang besar. (CR-4)

