Bahlil Akui Pernah ‘Disentil’ Jusuf Kalla Perkara Hilirisasi Nikel
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengaku pernah mendapat teguran dari mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla (JK). Pasalnya Bahlil terlalu membesar-besarkan proyek hilirisasi nikel yang sedang dijalankan Pemerintah.
“Saya pernah disentil oleh Pak JK. ‘Lil, itu investasi nikel itu jangan dibesarkan-besarkan. Karena yang dapat untung banyak kan bukan dalam negeri, tapi luar negeri. Nilai tambahnya itu luar negeri,’” ujar Bahlil dalam acara BNI Investor Daily Summit 2024, Rabu (9/10/2024).
Kendati demikian, menurut Bahlil hilirisasi nikel justru memberikan kontribusi besar ke perekonomian Indonesia. Pasalnya, 85-90% izin tambang nikel dimiliki oleh pengusaha dalam negeri, termasuk BUMN.
Namun demikian Bahlil tidak memungkiri bahwa dari sisi industri 85% pengolahan nikel masih dikuasai oleh asing. Sebab, dibutuhkan ekuitas 30-40% untuk menjalankan pengolahan nikel. Dan, lanjut Bahlil, bukan perkara yang mudah untuk mengumpulkan dana untuk memenuhi ekuitas 30-40% tadi.
Baca Juga
Bahlil Ungkap ‘Setan’ yang Ganggu Hilirisasi Nikel RI, Siapa Dia?
“Memang untuk kredit investasi, di awal untuk industri itu perbankan luar negeri yang lebih berminat. Andaikan pun ada, equity-nya terbesar, 30-40%. Pertanyaan saya, pengusaha siapa yang punya uang 30-40% untuk dijadikan equity?” sebut Bahlil.
Bahlil berpandangan, agar Indonesia bisa mendapatkan nilai tambah dari hilirisasi nikel ini, perlu peran juga dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk mengucurkan pinjaman ke industri nikel dalam negeri.
"Bagaimana caranya agar mau semuanya kembali ke revenue semuanya? Oh gampang saja. Seluruh investasi yang terkait dengan hilirisasi daripada industri, dibiayai semuanya oleh bank dalam negeri. Khususnya Himbara. Selesai soal," kata dia.

