Tren Investasi Hilirisasi Meningkat, Diyakini Bakal Dukung Pertumbuhan Ekonomi Era Prabowo Subianto
JAKARTA,investortrust.id - Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Riyatno mengatakan, tren investasi hilirisasi selalu mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Hal ini diyakini dapat menopang pertumbuhan ekonomi era pemerintahan baru presiden terpilih Prabowo Subianto.
Sebagaimana diketahui, Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% per tahun. Program hilirisasi yang mulai berlangsung sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun diharapkan menjadi salah satu pemicu (trigger) bagi pertumbuhan ekonomi ke depan.
“Insyaallah untuk pemerintahan Presiden terpilih, Pak Prabowo, yang sama-sama kita tahu bahwa salah satu prioritasnya adalah hilirisasi, tentu ini akan menopang untuk pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan bisa mencapai 8%,” ujar Riyatno dalam acara Investortrust Future Forum, Rabu (25/9/2024). Riyatno memaparkan, sejak 2019-2023 realisasi investasi di sektor hilirisasi mengalami tren peningkatan.
Pada tahun 2019, realisasi investasi di sektor ini sebesar Rp 61,6 triliun, adapun pada tahun 2020 nilainya meningkat menjadi Rp 94,8 triliun. Kemudian di tahun 2021, semakin bertambah menjadi Rp 117,5 triliun, berlanjut di tahun 2022 sebesar Rp 171,2 triliun, hingga pada tahun 2023 telah mencapai Rp 200,3 triliun.
“Dari tahun ke tahun, sejak 2019 hingga 2023, pertumbuhan realisasi investasi untuk realisasi ini cukup besar dan meningkat,” ucapnya.
Oleh karena itu, hilirisasi dinilai menjadi sektor yang paling besar potensinya dan apabila investasi di sektor ini terus bertambah, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Selain itu, ekspor kita tentu akan jauh lebih besar dibandingkan dengan kalau kita hanya mengekspor raw material (bahan mentah),” ujar Riyatno.
Tercatat, untuk pengembangan hilirisasi ini, dalam Peta Jalan Hilirisasi Investasi Strategis yang dibuat oleh Kementerian Investasi/BKPM, dibutuhkan investasi US$ 618 miliar hingga tahun 2040 mendatang. Dari hal tersebut diharapkan akan membuat PDB Indonesia berada di angka US$ 235,9 miliar.

