Predatory Pricing masih Berlanjut, Pakar Pemasaran Digital Ini Sarankan Pemerintah Turun Tangan
JAKARTA, investortrust.id – Predatory pricing atau praktik jual rugi dinilai menjadi salah satu tantangan berbahaya bagi bisnis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Bahkan, pakar pemasaran digital Andreas Agung menyatakan bahwa hal tersebut dapat menjatuhkan atau merugikan sektor UMKM ke depan.
“Predatory pricing ini memang sesuatu yang berbahaya bagi bisnis dan bisa berisiko untuk menjatuhkan hajat hidup orang banyak. Tak hanya bisnis skala kecil, bisnis skalasa besar sekalipun bisa tumbang, kalu terjadi banting harga atau bakar-bakar uang,” ungkap Andreas dalam Investortrust UMKM Connect 2024 bertajuk “Digitalisasi UMKM, Strategi Untuk Bersaing di Pasar Global di Jakarta, Rabu (25/9/2024).
Baca Juga
Cegah UMKM Lari ke Pinjol, Kemenkop UKM Permudah Akses Pembiayaan Bank
Dia mencermati, predatory pricing atau praktik jual rugi menyebabkan UMKM di Indonesia kalah bersaing dengan produk impor, karena harga produk impor yang sangat murah. Oleh sebab itu, Andreas menyarankan pemerintah untuk menerapkan kebijakan guna menghindari predatory pricing dengan peneptan plafon harga.
“Jadi memang perlu kebijakan untuk penetapan harga yang lebih fair, jadi supaya gak ada bisnis yang punah gitu,” lanjutnya.
Baca Juga
Begini Upaya Kemenkop UKM Dorong Sektor UMKM dalam Maksimalkan Penerapan Digital
Di samping itu, ia meminta, pelaku bisnis untuk melakukan digitalisasi sesuai dengan perubahan perilaku konsumen, sehingga bisnisnya terus eksis. Menurut Andreas, saat ini, semua jenis lapisan masyarakat sudah mulai beralih ke digital, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun untuk entertainment. Sehingga, bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tidak melakukan digitalisasi akan punah.
Tidak hanya itu, dia menegaskan, pelaku UMKM perlu melakukan upgrade kemampuan dengan mendalami pemasaran digital atau digital marketing yang menjadi salah satu keahlian yang perlu dimiliki oleh pelaku bisnis.

