Sederet Hambatan Hilirisasi di Indonesia, dari Biaya yang Tinggi hingga Banjir Bahan Baku Impor
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan sejumlah kendala yang dihadapi Indonesia untuk melakukan hilirisasi. Pertama, adalah biaya dan risiko investasi yang tinggi, terutama di sektor mineral dan minyak serta gas bumi.
Selain itu, disampaikan Direktur Hilirisasi Perkebunan Perikanan Kelautan dan Pertanian Kementerian Investasi/BKPM, Mohamad Faizal, hal yang menjadi kendala adalah akses pendanaan, khususnya di sektor perkebunan, kelautan hingga kehutanan.
Baca Juga
Tren Investasi Hilirisasi Meningkat, Diyakini Bisa Topang Pertumbuhan Ekonomi Era Prabowo
“Kalau kita bicara perkebunan, kelautan, perikanan, kehutanan, selain perusahaan besar ada UMKM juga, mulai dari yang perorangan, kecil, menengah, nelayan, petambak, petani, pekebun. Nah ini biasanya pembiayaan dari perbankan (jadi kendala) untuk hilirisasi,” ucapnya dalam acara bertajuk Mendiversifikasi PMA di Investasi Berkelanjutan di Investortrust.id Future Forum, Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (25/9/2024).
Menurut Faizal, sejumlah sektor yang ia sebutkan tersebut selama ini oleh perbankan belum dipandang sebagai sektor yang bisa menghasilkan income yang baik. Hilirisasi pun amat terkait dengan teknologi pengolahan yang membutuhkan inovasi-inovasi baru, dan membutuhkan permidalan dalam bentuk investasi, khususnya modal asing.
Dalam kesempatan yang sama Faizal juga mengungkapkan, sisi infrastruktur utama dan penunjang juga kerap masih menjadi kendala. Pasalnya, sejumlah sumber daya alam banyak yang tersimpan di daerah-daerah remote atau terpencil, yang masih minim dukungan infrastruktur jalan yang layak.
Baca Juga
Belum lagi tingginya biaya logistik serta ketergantungan terhadap barang atau produk impor untuk bahan baku, termasuk bahan antara serta bahan penunjang.
“Nah, dari rencana hilirisasi tadi, setelah ada roadmap, maka Kementerian Investasi/BKPM tidak dapat bergerak sendiri, kita harus bergerak bersama-sama dengan seluruh stakeholder yang ada,” tandas Faizal.

