Ramai Merger BUMN Karya, Ekonom: Perlu Ada Rasionalisasi
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Senior Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menanggapi soal rencana merger BUMN Karya. Menurutnya, ini adalah langkah yang wajar, mengingat perlu adanya rasionalisasi.
Sebagaimana diketahui, Menteri BUMN Erick Thohir telah merencanakan untuk proses restrukturisasi, di mana BUMN Karya yang akan merger dalam 3 tahun ke depan antara lain Hutama Karya (Persero) dengan Waskita Karya, serta PT PP (Persero) Tbk (PTPP) dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).
“Kita melihat banyak sekali BUMN Karya sekarang sedang berada dalam kesulitan. Oleh karenanya perlu ada rasionalisasi. Ini juga kan searah dengan apa yang sempat disampaikan oleh Pak Prabowo (Subianto) beberapa waktu lalu untuk melakukan rasionalisasi dan perampingan di BUMN,” kata Fithra saat ditemui di kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (19/9/2024).
Baca Juga
Stafsus Erick Thohir Sebut Merger BUMN Karya Akan Hilangkan Persaingan Tidak Sehat
Menurutnya, sangat penting sekali untuk melakukan merger lantaran BUMN Karya saat ini sedang dilanda kesulitan. Selain untuk efisiensi, merger ini juga dinilai dapat memperbesar skala usaha mereka.
Fithra tidak memungkiri bahwa dalam merger ini tidak selalu kedua pihak perusahaan memiliki laporan keuangan yang sama. Dia menyebut, ada juga perusahaan yang keuangannya tidak sehat.
“Kalau kita lihat kan juga dalam konteks merger, tidak semuanya sehat. Ada yang kemudian kondisi tidak sehat. Nah ini kan kita bicara mengenai formal BUMN. Memang di satu sisi itu punya potensi untuk kemudian mengurangi valuasi di jangka panjang. Tapi kan kemudian di jangka menengah-panjang kita juga harus melihat bahwa BUMN-BUMN ini harus dibuat lebih sehat lagi,” sebut dia.
Fithra menilai, meskipun ada ketimpangan dalam konteks fondasi ekonomi masing-masing BUMN tersebut, tapi ekosistem dari BUMN tersebut masih dalam ekosistem yang sama, yaitu BUMN karya.
“Nah kalau misalnya satu timpang, takutnya ya kalau misalnya ini tidak diselamatkan dalam konteks merger tadi, itu bisa kemudian meruntuhkan kepercayaan investor terhadap sektor ini, BUMN Properti atau BUMN di sektor Karya secara umum,” jelas Fithra.

