Sofyan Djalil Minta Persoalan Lahan Sawit Diselesaikan, Jadi Akar Permasalahan Semua
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Dewan Pengawas Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Sofyan Djalil menilai, persoalan lahan kelapa sawit menjadi akar masalah yang harus dibenahi. Pasalnya, persoalan lahan tersebut bisa berpengaruh ke berbagai hal, termasuk peningkatan produksi.
Sebagaimana diketahui, pemerintah memiliki program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Ini merupakan program untuk membantu pekebun rakyat memperbarui perkebunan kelapa sawit mereka dengan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan dan berkualitas, serta mengurangi risiko pembukaan lahan ilegal.
“Lahan ini harus diselesaikan. Kalau tidak diselesaikan masalah lahan maka program PSR tidak bisa tercapai. Kalau tidak bisa tercapai program PSR, produktivitas kita tidak meningkat,” ujar Sofyan Djalil saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (5/9/2024).
Baca Juga
Menurutnya, sawit-sawit masyarakat yang sudah tua ini tingkat produktivitas yang sudah sangat rendah. Bahkan, dia memperkirakan suatu saat nanti tidak ada lagi produksi. Maka dari itu, perlu dilakukan peremajaan terhadap perkebunan mereka.
“Itu 41% sekitar hampir 7 juta hektare adalah sawit masyarakat, yang perlu replanting, perlu peremajaan. Peremajaan tidak bisa dilakukan salah satunya adalah karena persoalan lahan yang tidak clean and clear. Itu persoalan,” tegas mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian tersebut.
Sofyan Djalil memandang hal ini cukup disayangkan, mengingat pemerintah sangat ingin menerapkan lebih banyak penggunaan biodiesel. Itulah mengapa produktivitas minyak kelapa sawit harus ditingkatkan.
“Biodiesel kita harus dorong. Tapi kalau misalnya dengan produktivitas tidak meningkat 50 juta ton, kemudian penggunaan biodiesel, berarti berkurangnya komponen untuk ekspor. Begitu ekspor kita kurang, uangnya tidak cukup untuk membiayai program biodiesel. Tidak cukup membiayai program PSR. Ini lingkaran setannya seperti itu,” ujar dia.
Baca Juga
Unila dan Agroinvestama Group Sukses Uji Coba Bahan Bakar Bensin Sawit 35
Terkait dengan penerapan B40 sendiri yang direncanakan pemerintah akan mulai berjalan awal tahun 2025, menurut Sofyan Djalil hal itu realistis untuk dilakukan. Pasalnya, sekarang masih ada cadangan cukup banyak uang oleh BPDPKS, sehingga B40 bisa terbiayai sampai tahun depan.
“Tapi setelah itu cadangan itu sudah tidak ada lagi. Sedangkan kita harus memikirkan bagaimana keberlanjutan,” sebut sosok yang juga pernah menjabat sebagai Menteri BUMN tersebut.

