Soal Pengembangan Gigabit City, Kominfo: Sudah Dibahas dengan Perusahaan Telekomunikasi
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengklaim telah membahas pengembangan kota digital dengan koneksi internet ultracepat hingga 1 GBPS yang diistilahkan sebagai gigabit city di Indonesia.
Sebagai catatan, gigabit city adalah konsep kota yang dapat mengakomodasi trafik data yang besar, pengurangan waktu respon, dan mengakomodasi beberapa trafik secara terpisah. Di mana kemampuan itu memberikan respon positif dalam penggunaan aplikasi dengan bandwidth atau kapasitas yang lebih besar seperti kebutuhan resolusi tinggi hingga multi-spectral vidio.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (Dirjen PPI) Wayan Toni Supriyanto mengatakan, pihaknya sudah menemui perusahaan telekomunikasi yang ada di Indonesia, baik operator seluler maupun penyedia layanan internet atau internet service provider (ISP) terkait dengan rencana pengembangan gigabit city.
"Sudah (ada pembicaraan dengan perusahaan) telekomunikasi, kita sudah merencanakan itu sejak lama," katanya ketika ditemui di Pondok Indah Golf Range, Jakarta Selatan, Minggu (25/8/2024).
Baca Juga
Menparekraf Sandiaga Jajaki Kerja Sama dengan Industri Gim dengan 11 Bit Studios di Polandia
Wayan meyakini perusahaan telekomunikasi di Indonesia mampu mewujudkan konsep yang disiapkan untuk mencapai Visi Indonesia Digital (VID) 2045 itu. Tentunya, hal tersebut juga harus didukung oleh pemetaan kebutuhan dari masing-masing kota yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya.
VID 2045 menetapkan beberapa sasaran dan target. Dalam aspek Infrastruktur Digital ada tiga, yaitu cakupan layanan seluler mencapai 100% pada tahun 2034, 98 Gigabit City pada 2029 dan 514 pada 2045, dan rerata kecepatan unduh mobile broadband sebesar 100 Mbps pada 2029, dan 760 Mbps pada 2045.
Sebelumnya Wayan mengatakan Kemenkominfo telah menetapkan indeks yang dijadikan dasar pembelajaran untuk implementasi Gigabit City agar konsep tersebut tepat guna. Dia menyebut mengimplementasikan konsep yang sama di negara seperti Singapura akan jauh lebih mudah karena tak memiliki tantangan demografi maupun geografis.
Baca Juga
"Jangan sampai kami bangun gigabit, invetasi luar biasa, tetapi tak relevan. Harus melihat peluang di sana, supply-demand masyarakat di sana, industri di sana. Kami sudah menyusun indeks transformasi digital," katanya dalam sebuah diskusi di Menara Tendean, Jakarta Selatan, Jumat (5/7/2024).
"Jadi semuanya diorkestrasi di VID 2045, apalagi ke depannya ada banyak perkembangan teknologi seperti AI (artificial intelligence) hingga metaverse itu kan butuh kapasitas dan kecepatan luar biasa. Maka dari itu kami membangun konsep Gigabit City ini untuk menghadapi perkembangan ke
Dengan demikian, pengembangan Gigabit City bisa mengembangkan potensi ekonomi yang unik dari setiap kota. Alih-alih sekadar menghadirkan koneksi internet ultracepat.

