Beberkan Data Impor Keramik China, Faisal Basri: Mana yang Namanya Dibanjiri?
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Senior Faisal Basri mempertanyakan kondisi industri keramik dalam negeri yang disebut dibanjiri produk impor asal China. Pasalnya, berdasarkan data yang dipaparkannya tidak memperlihatkan kondisi yang terjadi saat ini.
Dalam data yang dipaparkannya dari International Trade Center, Faisal Basri mengungkapkan jumlah produk keramik asal China yang masuk ke Indonesia pada 2022 lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19, yakni pada tahun 2018.
“Tahun 2022 itu 1 juta ton, lebih rendah dari 2018 sebelum Covid-19, sebesar 1,3 juta ton (2018),” ucap Faisal dalam diskusi yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (Indef) di Jakarta Selatan, Selasa (16/7/2024).
Baca Juga
Kemenperin Sebut 7 Perusahaan Keramik Bangkrut, Ini Penyebabnya
Ia mengungkapkan, data impor keramik asal China untuk HS Code 690721 itu pada 2019 sebanyak 900.000 ton. Kemudian 2020 sebesar 863.000 ton, dan 2021 serta 2023 mengalami kenaikan, yakni 1,1 juta ton.
“Mana yang namanya dibanjiri oleh impor itu? Saya bingung. Dibanjiri kan? Mana? Ini fenomena sebelum Covid-18 kok. Ini data resmi loh, bukan data saya,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, Faisal Basri pun mempertanyakan bagaimana kondisi sebenarnya dari industri keramik sehingga banyak mengalami keterpurukan hingga harus memerlukan kebijakan penerapan bea masuk anti dumping (BMAD).
Baca Juga
Industri Keramik Babak Belur, Asosiasi Minta Pemerintah Terbitkan Bea Masuk
“Jadi sehingga secara total kita lihat tidak ada membanjiri gitu dalam artian itu tadi. Apa yang namanya membanjiri itu? Jadi enggak ada membanjir, apalagi air bah gitu, banjir bandang gitu, jauh. Jauh,” terang Faisal.

