Harga Makanan-Minuman Akan Naik Imbas Rupiah Anjlok? Ini Kata Bos Gapmmi
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minumam Seluruh Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman menyebutkan industri menengah besar masih mempunyai daya tahan terhadap pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS.
Oleh sebab itu, Adhi memastikan harga produk makanan dan minuman atau mamin tidak langsung melonjak, meskipun nilai rupiah terhadap dolar hingga saat ini sudah di atas Rp 16.000.
“Jadi, kita tidak serta-merta langsung naikkan harga jual,” ucap Adhi saat ditemui di Gedung Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta Selatan, Selasa (25/6/2024).
Lebih lanjut, menurut Adhi, industri makanan dan minuman menengah besar masih berusaha menyerap dan mengurangi margin supaya tidak berpengaruh ke penjualan. Hal ini dilakukan guna menjaga daya beli masyarakat.
“Kemudian kita tentu melakukan juga perubahan-perubahan lainnya, seperti kemasannya, segala macam. Ini yang kita lakukan supaya daya beli masih bisa kita jaga, harga jual kita bisa bertahan,” ungkapnya.
Kendati demikian, Adhi pun menyebutkan industri makanan dan minuman tidak selamanya akan bertahan apabila nilai tukar rupiah terus terpuruk, dan bahkan jika angka tersebut melewati Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
“Kita agak sulit dijawab ini ya, karena masing-masing tergantung dari perusahaannya. Tapi perkiraan saya sih mungkin 3-4 bulan masih bisa (bertahan dengan tidak menaikan harga produk mamin),” papar Adhi.
Baca Juga
Kumpulkan Menteri dan Kepala Lembaga, Jokowi Gelar Rapat Bahas Pelemahan Rupiah

