Gapki: Tak Semua Produk Bisa Dihilirisasi
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia saat ini sedang menggenjot hilirisasi di berbagai sektor, termasuk kelapa sawit demi meningkatkan nilai tambah produk. Namun demikian, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai hilirisasi tidak bisa dilakukan untuk semua produk.
Ketua Bidang Luar Negeri Gapki, Fadhil Hasan menyebutkan, proses hilirisasi biasanya dimulai ketika konsumsi di dalam negeri memiliki skala ekonomi yang cukup, lalu kemudian berorientasi pada ekspor.
“Kita juga perlu melihat bahwa tidak semua produk itu bisa diciptakan market-nya dalam skala ekonomi yang cukup efisien. Dan oleh karena itu saya kira bahwa hilirisasi itu jangan dilakukan untuk semua produk,” ujar Fadhil Hasan dalam Investortrust Focus Group Discussion, Kamis (20/6/2024).
Fadhil memaparkan, pemerintah harus memilih produk-produk yang memiliki pasar cukup besar di dalam negeri dan memiliki skala ekonomi yang efisien. Kemudian barulah memilah produk-produk mana saja yang bisa dihilirisasi dengan mendasarkan pada skala ekonomi tersebut.
Baca Juga
Gapki Sebut Intervensi Pemerintah Dibutuhkan untuk Dorong Hilirisasi Sawit
“Jadi jangan juga ada anggapan bahwa kita melakukan hilirisasi itu at all cost. Semuanya harus dihilirisasi, itu gak betul juga,” jelas Fadhil.
Lebih lanjut Fadhil mencontohkan Amerika Serikat yang memiliki ekspor besar kedelai. Meski mereka memiliki produksi kedelai yang besar, namun tak lantas kedelai tersebut dihilirisasi oleh Amerika. Meski demikian berarti Amerika abai soal hilirisasi.
“Dia mengekspor kedelai ke China atau ke berbagai negara termasuk ke Indonesia. Produk hilirnya itu diciptakan, crushing industrinya itu tidak ada di Amerika, tapi di China atau di negara-negara lain, yang memproses lebih lanjut kedelai tersebut,” beber Fadhil.
Baca Juga
Tokoh Industri Sawit ini Sebut Pentingnya Konsesi Nasional untuk Dorong Legalitas Lahan Petani Sawit
Maka dari itu Fadhil menyarankan Indonesia juga harus berpikir secara rasional untuk melihat bahwa tidak semua produk harus dihilirisasi. Indonesia harus memilah produk yang memiliki skala ekonomi yang efisien di dalam negeri sebelum bisa berkompetisi di luar negeri.
“Nah satu hal yang menjadi pertimbangan utama kita juga adalah bahwa kompetisi di global dalam produk hilir itu jauh lebih ketat dibandingkan dengan produk-produk hulunya. Dan kita seperti memiliki natural barrier to entry. Kita gak bisa memasuki industri tersebut karena merupakan pemain yang baru,” terangnya.

