Menengok Kekuatan Geothermal Dunia: Dari Larderello dan The Geysers, Hingga Wayang Windu dan Kamojang
JAKARTA, Investortrust.id – Konferensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) dan Paris Agreement yang digelar pada tahun 2015, telah mendorong hampir seluruh negara di dunia untuk mencapai net zero emission pada pertengahan abad ini. Bahkan beberapa negara di antaranya menetapkan target yang lebih ambisius, sebelum tahun 2050.
Sejumlah negara mulai menyasar pengurangan bahkan memberhentikan operasional pembangkit listrik berbasis fosil sebagai bagian dari langkah mengejar tingkat emisi nol. Pasalnya telah dipahami bahwa sumber emisi karbondioksida secara global terbesar dihasilkan dari industri energi berupa pembangkit listrik berbasis fosil dengan sumbangan sebesar 36%.
Sementara di Tanah Air, melansir kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas pada 2022, sektor energi merupakan penyumbang emisi terbesar di Indonesia.
Sektor energi dan transportasi mendominasi emisi dengan persentase sebesar 50,6% atau sebesar 1 Gt CO2e dari total emisi di Indonesia pada 2022.
Dengan kondisi tersebut, maka sangat sahih jika dibutuhkan langkah transisi dari energi berbasis fosil dengan tingkat emisi tinggi ke energi rendah karbon.
Baca Juga
Indonesia Bidik Peluang Kerja Sama Geotermal dengan Selandia Baru
Pembangkit listrik berbasis geothermal atau panas bumi dipandang menjadi peluang terbaik dan terekonomis untuk dikembangkan.
Untuk pengembangan sumber daya energi panas bumi, pemerintah lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga rajin membuka peluang kerja sama dengan sejumlah negara. Salah satunya lewat ajang Forum Joint Regional Strategy Dialogue ASEAN - Gulf Cooperation Council di Riyadh, Arab Saudi, yang digelar akhir April lalu (28/4/2024).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyampaikan tengah menjajaki tiga langkah pengembangan kerja sama bilateral dengan negara-negara Teluk. Pemerintah pun telah menngidentifikasi sejumlah proyek pengembangan energi panas bumi di Tanah Air yang siap untuk dikerjasamakan dengan investor, salah satunya PLTP Muara Laboh yang dikelola PT Supreme Energy Muara Laboh.
"Beberapa proyek seperti PLTP Muara Laboh, PLTA Kayan, PLTS Legok Nangka, dan pensiun dini PLTU Batubara Cirebon 1, saat ini sedang dalam tahap investasi dan eksekusi," ujar Arifin dalam pernyataan resmi akhir April lalu.
Tak hanya di Tanah Air sebagai kawasan yang dikenal sebagai Ring of Fire dan penyimpan energi panas bumi yang berlimpah, banyak negara sejatinya telah menjadikan sumber energi geotermal sebagai solusi terbaik mencapai emisi nol, setidaknya dari sisi penghasil energi yang dituding sebagai penyumbang emisi terbesar.
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) Akan Akuisisi Aset Panas Bumi di Kenya dan Turki
Sekadar informasi saja, Indonesia bisa dikatakan sebagai negara adidaya dari sisi penyedia energi panas bumi. Posisinya terpaut satu nomor di bawah pemilik cadangan sumber daya energi panas bumi dunia, yakni Amerika Serikat.
Melansir laman thinkgeoenergy.com, Amerika Serikat pada tahun 2022 tercatat punya kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 3.794 Mega Watt (MW), terbesar di dunia. Diikuti Indonesia di tahun yang sama dengan kapasitas PLTP sebesar 2.356 mega watt (MW).
Dengan bekal cadangan panas bumi sebesar 23,7 giga watt (GW), Indonesia memulai pengembangan sumber daya panas bumi di pada tahun 1970-an, dan telah mematok target pengembangan mencapai 9,3 giga watt (GW) pada tahun 2030.
Negara berikutnya yang memiliki kapasitas terpasang pembangkit geothermal adalah Filipina, dengan total kapasitas energi 1,93 ribu megawatt (MW) pada tahun 2021.
Masih menurut Thinkgeoenergy, negara produsen listrik panas bumi terbesar keempat di dunia adalah Turkiye dengan kapasitas pembangkit listrik terpasang dengan kapasitas mencapai 1.691 mega watt (MW).
Baca Juga
Barito Renewables (BREN): Raih Tahta Market Cap Terbesar hingga Prajogo makin Kaya
Negara lainnya yang juga berada di gugus Cincin Api, yakni Selandia Baru, menjadi negara kelima produsen pembangkit listrik geotermal terbesar dunia, dengan kapasitas terpasang sebesar 1.037 mega watt (MW).
Geotermal, Sumber Energi Bersih dengan Berbagai Kelebihan
Sejauh ini banyak kalangan menilai pembangkit listrik geothermal memiliki kelebihan dibandingkan sumber energi terbarukan lain. Pertama terkait konsistensi ketersediaan atau pasokan. Energi berbasis geotermal dinilai memiliki risiko yang rendah terhadap potensi intermitten alias byar pet. Pasalnya sumber energinya tidak dipengaruhi oleh faktor cuaca seperti matahari atau angin. Hal ini membuatnya menjadi sumber energi yang dapat diandalkan dan konsisten, dan dapat memberikan pasokan listrik yang stabil sepanjang waktu.
Berikutnya energi berbasis geothermal dikenal sebagai sumber energi dengan tingkat emisi rendah, dan jejak karbon yang juga minor. Alasan inilah yang membuat proyek pembangkit geotermal menjadi solusi yang ramah lingkungan dan berkontribusi pada upaya untuk mengurangi emisi karbon.
Pembangkit listrik geotermal juga dianggap efisien dan tidak memerlukan luas lahan yang besar seperti pembangkit listrik tenaga surya atau angin. Sumur-sumur geotermal dapat ditempatkan di area yang relatif kecil dan tidak mengganggu kegiatan lainnya seperti pertanian atau pemukiman.
Berikutnya, sumur geotermal yang telah dibor dan dipasang infrastruktur pembangkit listrik, tingkat keekonomiannya semakin lama akan tinggi karena biaya operasional yang relatif rendah. Durasi ketersediaan panas bumi yang tinggi juga dianggap sebagai sumber konsisten energi listrik bagi masyarakat.
Baca Juga
Disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, Indonesia memiliki potensi cadangan panas bumi terbesar di dunia, dan pengembangan pembangkit listrik berbasis panas bumi akan terbentuk struktur biaya enegri yang rendah bagi masyarakat.
“Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, totalnya sekitar 28 gigawatt (GW) atau 28 ribu megawatt (MW), yang baru termanfaatkan sampai hari ini kurang 10%. Jika kita bisa mengembangkan ini, maka diharapkan energi terbarukan semakin kompetitif, terutama listrik dari panas bumi yang bisa lebih murah,” papar Fabby beberapa waktu lalu, seperti dilansir laman resmi IESR.
Mengenal Pemain Raksasa Geotermal Dunia
Sebelum masuk mengenal lebih rinci siapa saja pemain besar di bisnis pembangkit panas bumi dunia, perlu mengenal nama Larderello lebih dulu. Nama ini merupakan daerah di Tuscany, Italia, tempat pertama kali dikembangkannya pembangkit listri berbasis panas bumi.
Ya, proyek listrik geothermal pertama di dunia adalah Pembangkit Listrik Geothermal Larderello di Italia. Proyek ini dioperasikan Società Franco Toscana di Larderello, yang kemudian menjadi bagian dari Enel Green Power, perusahaan energi terbesar di Italia. Pembangkit listrik ini mulai beroperasi pada tahun 1904, sehingga menjadikannya proyek geothermal komersial pertama di dunia.
Dari Larderello inilah, terus dikembangkan teknologi pemanfaatan energi panas bumi yang dinilai zonder emisi, dan berikutnya lahir para pemain-pemain geotermal besar dunia, termasuk Calpine Corps yang mengelola pembangkit The Geysers yang terkenal sangat besar di di Sonoma, Lake County, California AS.
Berikut adalah korporasi global penghasil listrik berbasis energi panas bumi terbesar dunia:
1. Energy Development Corporation (EDC)
Dari sisi kapasitas, Energy Development Corporation (EDC) menjadi korporasi pengembang energi panas bumi pemuncak dunia. EDC adalah produsen energi panas bumi terbesar di Filipina dan juga terbesar di dunia, dengan mengoperasikan sejumlah pembangkit dengan total kapasitas terpasang sebesar 1.185 MW (MegaWatt).
Di Filipina, EDC yang sebelumnya merupakan anak usaha perusahaan migas pelat merah setempat, memang dikenal sebagai perusahaan energi yang 100% memproduksi energi terbarukan. Jika seluruh pembangkit listrik terbarukan EDC digabungkan bersama pembangkit geotermalnya, maka perusahaan yang dimiliki konglomerasi Lopez Group ini mengelola 1,499.14 MW. Angka tersebut berkontribusi sebesar 20% dari total pasokan energbi baru dan terbarukan di Filipina. Sementara jika dilihat dari sisi pasokan listrik dari pembangkit Geotermal, EDC berkontribusi sebesar 62%.
2. Ormat Technologies Inc
Berada di urutan kedua adalah Ormat Technologies Inc, perusahaan yang berbasis di Reno, Nevada, Amerika Serikat dan telah lama dikenal sebagai penyedia teknologi energi panas bumi dan energi baru terbarukan. Ormat tercatat telah membangun lebih dari 190 pembangkit listrik dengan total kapasitas terpasang lebih dari 3.200 MW.
Sementara itu kapasitas terpasang dari pembangkit geotermalnya tercatat sebesar 984 MW, menjadikannya sebagai korporasi penghasil listrik berbasis panas bumi terbesar kedua di dunia.
Ormat didirikan di Yavne, Israel pada tahun 1965 dengan nama Ormat Turbines Ltd, dan berikutnya bertransformasi menjadi Ormat Industries. Pendirinya, Lucien Bronicki sempat menjabat sebagai Chairman dan CTO hingga tahun 2014.
3. Comisión Federal de Electricidad (CFE)
Di urutan ketiga penghasil listrik geotermal adalah Comisión Federal de Electricidad/CFE. Perusahaan listrik milik pemerintah Meksiko ini adalah perusahaan listrik yang cukup dominan dan terbesar kedua setelah Pemex. CFE pada tahun 2023 diketahui memiliki kapasitas terpasang pembangkit listrik geotermal sebesar 980 MW.
4. Ente nazionale per l'energia elettrica (Enel)
Berikutnya jajaran korporasi penghasil listrik geotermal terbesar diisi oleh Enel asal Italia, yang kini menjadi pemilik pembangkit listrik geotermal tertua dunia di Larderello. Pada tahun lalu Enel diketahui mengelola pembangkit listrik geotermal dengan total kapasitas sebesar 917 MW.
Baca Juga
Laba Tumbuh 17,87%, Barito Renewables (BREN) Ungkap Target 2028
5. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) merupakan perusahaan induk sekaligus bagian dari tentakel energi Grup Barito Pacific yang dimiliki Prajogo Pangestu dari Indonesia. Perusahaan ini berfokus pada strategi jangka panjang untuk menyediakan energi yang lebih bersih dan emisi yang lebih rendah. Perusahaan ini memulai operasinya melalui anak perusahaannya, Star Energy Geothermal Group, sebuah produsen energi panas bumi. BREN kini memiliki tiga aset panas bumi di Jawa Barat dengan kapasitas 886 MW atau terbesar di Indonesia, dengan kontribusi sebesar 38% dari total pangsa pasar energi panas bumi di Indonesia.
Lewat anak usahanya, Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Limited, BREN mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas listrik sebesar 230,5 MW. Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Limited memiliki hak eksklusif untuk mengembangkan area panas bumi berdasarkan Kontrak Operasi Bersama dengan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) hingga 2039 dan menyediakan listrik hingga 400MW berdasarkan Kontrak Penjualan Energi dengan PGE & PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Selain Wayang Windu, BREN juga membawahi Star Energy Geothermal Darajat II Limited yang mengoperasikan pembangkit listrik sebesar 274,5 MW. Star Energy Geothermal Darajat II Limited memiliki hak eksklusif untuk mengembangkan area panas bumi berdasarkan Kontrak Operasi Bersama dengan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) hingga 2041 (Unit 1&2) dan 2047 (unit 3) dan menyediakan energi panas bumi serta listrik hingga 330 MW berdasarkan Kontrak Penjualan Energi dengan PGE & PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Selanjutnya BREN melalui Star Energy Geothermal Salak, Ltd (SEGS) memiliki hak eksklusif untuk mengembangkan area panas bumi berdasarkan Kontrak Operasi Bersama dengan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) hingga 2040 dan menyediakan listrik hingga 495 MW berdasarkan Kontrak Penjualan Energi dengan PGE & PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
6. Kenya Electricity Generating Company PLC (KenGen)
Nama besar berikutnya adalah Kenya Electricity Generating Company PLC (KenGen), perusahaan pelat merah milik Republik Kenya. Denagn statusnya sebagai BUMN, KenGen menjadi produsen tenaga listrik terbesar di Kenya, yang berkontribusi sebesar 60% dari total pasokan listrik di Kenya.
KenGen mengandalkan berbagai sumber untuk menghasilkan listrik, mulai dari tenaga air, panas bumi, panas, dan angin, dengan tenaga air sebagai sumber listrik utama. Perusahaan yang berdiri pada 1 February 1954 dengan nama Kenya Power Company (KPC) ini memiliki kapasitas terpasang listrik berbasis geotermal sebesar 793 MW.
7. Calpine Corporation
Calpine Corporation adalah perusahaan pemilik pembangkit listrik terbesar dari sumber daya gas alam dan panas bumi di Amerika Serikat. Calpine melayani pelanggan di 24 negara bagian, termasuk Kanada, dan Meksiko. Berdiri pada tahun 1984, Calpine menjadi salah satu pemain di bisnis listrik berbasis panas bumi yang memiliki konsesi di komplek ladang panas bumi terbesar di dunia di Sonoma, California, atau sering disebut sebagai "The Geyser".
Pada tahun 2023, Calpine disebutkan memiliki kapasitas produksi energi berbasis panas bumi sebesar 725 MW dari seluruh pembangkit geotermal yang dimilikinya.
8. Aboitiz Power Corporation
Aboitiz Power Corporation juga dikenal dengan nama AboitizPower (AP), adalah anak usaha Aboitiz Equity Ventures (AEV), perusahaan induk yang bergerak di bidang distribusi listrik, pembangkitan, dan layanan listrik ritel.
Berdiri pada 13 Februari 1998, AboitizPower menjadi anak perusahaan AEV penyumbang 71% dari total pendapatannya di tahun 2019, dan memegang seluruh aset di sektor pembangkitan dan distribusi listrik. Aboitiz bergerak di pengoperasian fasilitas tenaga surya, batu bara, minyak, pembangkit listrik tenaga air, dan panas bumi.
Pada tahun 2023, AboitizPower tercatat menjadi perusahaan terbesar ketujuh kelas dunia dari sisi produksi listrik berbasis energi panas bumi. Perusahaan ini memiliki kapasitas produksi listrik sebesar 683 MW dari energi panas bumi.
9. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk
Di urutan kesembilan, perusahaan Indonesia kembali muncul sebagai salah satu korporasi besar dunia yang mengembangkan energi berbasis panas bumi. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, anak usaha PT Pertamina Persero lewat PT Pertamina Power Indonesia ini memiliki sejumlah unit pembangkit listrik panas bumi yang tersebar di Kamojang dan Karaha di Jawa Barat, lalu Lahendong Sulawesi Utara, serta Ulu Belu di Lampung.
Pada tahun 2023, perusahaan dengan kode bursa PGEO ini tercatat memiliki kapasitas terpasang listrik dari PLTP-nya sebesar 672 MW, cukup membuatnya masuk dalam daftar 10 besar penghasil listrik panas bumi.
Baru-baru ini PGEO diberitakan berencana akan mengakuisisi aset panas bumi di Kenya dan Turkiye. Satu proyek panas bumi yang berlokasi di Kenya saat ini tengah dalam proses akuisisi dan dan diproyeksikan dapat rampung di kuartal III-2024.
10. Mercury NZ Limited
Nama kesepuluh dalam jajaran pemilik pabrik setrum dari panas bumi adalah Mercury NZ Limited yang berbasis di Selandia Baru. Mercury Energy pada tahun 2023 dilaporkan memiliki kapasitas terpasang listrik panas bumi sebesar 489 MW.

