Pabrik Sepatu Bata Tutup, Aprisindo Minta Ini ke Pemerintah demi Nasib Industri Alas Kaki
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) meminta pemerintah untuk memberikan perhatian lebih kepada industri alas kaki. Hal itu disampaikan ketika menanggapi penutupan pabrik PT Sepatu Bata Tbk (BATA).
Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri mengungkapkan, salah satu hal yang diperhatikan adalah menyediakan bahan baku dengan harga yang kompetitif.
“Industri alas kaki menagih pemerintah untuk dapat menyediakan bahan baku yang kompetitif,” ucap Firman dalam keterangannya, Senin (6/5/2024).
“Sehingga industri alas kaki bisa bertahan dan bahkan bisa untuk ekspansi. Tanpa dukungan bahan baku yang kompetitif, sulit bagi industri alas kaki bersaing dengan produk impor illegal,” tambahnya.
Baca Juga
Rugi Membengkak, Sepatu Bata (BATA) Jual Graha Bata Simatupang Rp 64 Miliar
Lebih lanjut, Firman menjelaskan bahwa pendekatan birokrasi dalam penanganan impor ilegal bukan hal yang baru lagi. Ia menyebut, tarik ulur regulasi tataniaga dari border ke post-border balik lagi menjadi border bukan juga hal yang baru.
“Persetujuan impor, kuota impor juga bukan hal baru lagi. Sehingga pendekatan birokrasi hanya akan mematikan pelaku usaha yang jujur,” imbuh Firman.
Diketahui, Bata menutup pabriknya yang berada di Purwakarta, Jawa Barat yang sudah beroperasi selama 30 tahun atau sejak 1994. Pengumuman penutupan pabrik tersebut disampaikan manajemen Bata melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Minggu (5/5/2024).
Baca Juga
Pabrik Sepatu Bata Tutup, Kemenaker: Semua Hak Pekerja Harus Diberikan
Director & Corporate Secretary PT Sepatu Bata Tbk, Hatta Tutuko, menjelaskan keputusan untuk menghentikan aktivitas produksi pabrik yang berada di Purwakarta berdasarkan Keputusan Direksi pada Selasa (30/4/2024) yang sebelumnya disetujui berdasarkan persetujuan dari Keputusan Dewan Komisaris pada Senin (29/4/2024).
“Dengan adanya keputusan ini, maka perusahaan tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta," demikian disampaikan Hatta melalui Keterbukaan Informasi BEI.

