95% Bahan Baku Obat Impor, Indonesia Gandeng India Kerja Sama Produksi
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia membuka kesempatan kerja sama dengan India untuk mengembangkan produk kesehatan dengan harga yang terjangkau. Indonesia hingga saat ini masih mengimpor 95% dari total bahan baku obat.
"Indonesia masih mengimpor 95% dari bahan baku obat, (baru) sebanyak 5% telah diproduksi untuk ketersediaan dalam negeri. Adapun nilai produksi obat dalam negeri lebih dari US$ 6 juta," kata Asisten Deputi Investasi Strategis Kemenko Marves Bimo Wijayanto dalam Indonesia-India Health Business Forum di Kantor Kedutaan Besar India, Jakarta, Selasa (27/02/2024).
Sementara, Direktur Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Roy Himawan memaparkan, Indonesia memiliki industri manufaktur yang kuat bagi obat generik. Namun, hingga kini, kekurangan produk obat inovatif.
“Sejak tahun 2012, hanya 18% produk obat inovatif yang tersedia di Indonesia. Sedangkan rata-rata negara di G20 sudah sebesar 38%,” ungkap Roy Himawan.
Baca Juga
Buka Peluang Kerja Sama, Indonesia – India Gelar Forum Bisnis Kesehatan di Jakarta
Sasar Pusat Manufaktur Farmasi
Oleh sebab itu, Indonesia hendak menjalin kerja sama dengan India, sebagai salah satu produsen obat-obatan terbesar di dunia. “Kami bertujuan tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun juga memosisikan Indonesia sebagai pusat manufaktur farmasi. Visi ini selaras dengan tujuan kami yaitu ketahanan sektor kesehatan dan ketahanan ekonomi,” ucap Bimo.
Baca Juga
Anies Ingin Turunkan Impor Bahan Baku Obat hingga 20%/Tahun
Indonesia berkomitmen memberikan insentif fiskal bagi investasi asing langsung (FDI), khususnya di sektor strategis seperti sektor farmasi. Hal ini untuk memajukan industri kesehatan RI.
“Insentif dirancang untuk menarik investasi, juga secara langsung meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Kolaborasi ini menjanjikan keuntungan bersama, termasuk pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan yang paling penting, kemajuan dalam industri kesehatan,” ujar Bimo.
Pada kesempatan yang sama, Duta Besar India untuk Indonesia dan Timor Leste Sandeep Chakravorty menyatakan, ia ingin banyak perusahaan India berinvestasi di Indonesia. India pun terbuka untuk kerja sama, dengan melakukan pertukaran pengetahuan dan kemampuan.
“Jadi, itu harus menjadi hubungan yang sangat simbiosis. Saya mendorong perusahaan-perusahaan india yang membuat API untuk mengekspor ke India, karena kami juga membutuhkan API. Demikian pula, Anda tahu, Anda juga bisa mengimpor obat jadi, obat khusus, obat yang tidak memiliki pasar besar namun merupakan obat penting yang menyelamatkan jiwa,” papar Sandeep.
Sandeep menyatakan belum ada besaran target investasi dalam kerja sama India dan Indonesia. Tapi, saat ini sudah ada perusahaan India, Hetero, yang berinvestasi di Indonesia. Harapannya, dengan adanya forum tersebut, bisa menggaet minat lebih besar bagi perusahaan India untuk berinvestasi di Indonesia.

