Merdeka Battery (MBMA) Cetak Rekor Produksi Nikel, Margin Saprolit Melonjak 23 Kali Lipat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi, mencatatkan rekor produksi bijih nikel sebesar 12,3 juta wet metric tonnes (wmt) pada kuartal III 2026. Capaian tersebut melonjak 61% secara tahunan maupun kuartalan, sekaligus mendorong margin tunai saprolit naik 23 kali lipat menjadi US$ 35,8 per wmt.
Kinerja tersebut ditopang peningkatan produktivitas tambang di Sulawesi, harga jual bijih yang lebih tinggi, serta pengendalian biaya. Di sisi hilir, MBMA juga mencatat perkembangan operasional pabrik Acid Iron Metal (AIM) dan fasilitas pengolahan nikel berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL).
Produksi bijih nikel sepanjang kuartal III/2026 terdiri atas 3,3 juta wmt saprolit, meningkat 68% secara tahunan, dan 9 juta wmt limonit, naik 62%. Peningkatan produksi tersebut didukung utilisasi alat berat yang lebih tinggi, perbaikan kapasitas pengangkutan bijih, serta produktivitas yang lebih kuat di sejumlah area penambangan utama.
Baca Juga
Tambang Merdeka Battery (MBMA) Rampungkan Jalur Angkut Baru Sepanjang 60 Km
Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk Teddy Oetomo mengatakan, pencapaian tersebut mencerminkan peningkatan kinerja operasional dan kekuatan model bisnis terintegrasi perusahaan.
“Kuartal ketiga ini membuktikan ketangguhan dari platform operasi terintegrasi MBMA. Rekor produksi bijih nikel dan margin hulu yang lebih kuat mencerminkan peningkatan yang terus kami lakukan dalam hal produktivitas dan eksekusi operasional, sementara AIM dan aset-aset HPAL kami terus memajukan tahapan integrasi selanjutnya di seluruh nilai rantai pasok,” ujar Teddy dalam keterangan resmi, Senin (2/11/2026).
Dia mengatakan, perusahaan tetap berfokus menjaga disiplin biaya dan keandalan operasi seiring upaya meningkatkan skala bisnis.
Lonjakan produksi bijih nikel turut diikuti peningkatan margin di sektor hulu. Margin tunai saprolit mencapai US$ 35,8 per wmt, meningkat 23 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, margin tunai limonit naik 85% secara tahunan menjadi US$ 12 per wmt. Kenaikan tersebut mencerminkan harga jual aktual bijih yang lebih tinggi setelah perubahan kerangka Harga Patokan Mineral (HPM), disertai pengendalian biaya dan peningkatan efisiensi operasional.
Perubahan HPM memengaruhi harga jual bijih nikel domestik yang menjadi salah satu komponen penting dalam struktur biaya industri pengolahan. Bagi MBMA, kenaikan harga tersebut memberikan keuntungan lebih besar pada kegiatan penambangan, meskipun pada saat bersamaan meningkatkan biaya bahan baku bagi fasilitas pemrosesan.
Kondisi tersebut terlihat pada segmen pengolahan nikel. Sepanjang kuartal III/2026, produksi Nickel Pig Iron (NPI), produk antara nikel yang digunakan dalam industri baja tahan karat, meningkat 5% secara kuartalan menjadi 20.553 ton kandungan nikel.
Produksi high grade nickel matte (HGNM), produk antara nikel berkadar tinggi untuk industri baterai dan pengolahan lanjutan, juga meningkat 3% secara kuartalan menjadi 9.436 ton. Namun, kenaikan harga bijih saprolit setelah revisi HPM, ditambah peningkatan beban energi dan biaya peleburan, menekan margin pemrosesan sepanjang kuartal tersebut.
NPI masih mampu mempertahankan margin tunai positif. Sebaliknya, HGNM mencatatkan margin tunai negatif sebelum memperhitungkan manfaat lindung nilai atau hedging. Meski demikian, pelemahan margin di segmen pemrosesan dapat dikompensasi oleh peningkatan margin penambangan. Besarnya kontribusi sektor hulu bahkan mampu menutup sepenuhnya tekanan margin di sektor pengolahan, sehingga kinerja perusahaan tetap ditopang oleh keuntungan dari integrasi kegiatan usaha.
Pabrik AIM dan HPAL Terus Berkembang
Di luar kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel, fasilitas AIM juga mencatatkan peningkatan kinerja. Produksi asam sulfat mencapai 291.198 ton pada kuartal III/2026, meningkat 13% dibandingkan kuartal sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung operasi stabil kedua lini pabrik asam sulfat yang berjalan pada kapasitas terpasangnya atau nameplate capacity.
Pendapatan dari penjualan asam sulfat juga meningkat 18% secara kuartalan menjadi sekitar US$ 98 juta atau setara Rp 1,63 triliun, dengan asumsi kurs Rp 16.600 per dolar AS.
Kinerja tersebut didukung tren harga asam sulfat yang lebih tinggi serta permintaan yang kuat dari fasilitas HPAL di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri pengolahan mineral di Sulawesi Tengah.
Asam sulfat merupakan bahan kimia penting dalam proses HPAL untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi produk antara nikel dan kobalt. Karena itu, peningkatan produksi AIM turut memperkuat posisi MBMA dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik.
Pada fasilitas HPAL, PT ESG New Energy Material (PT ESG) telah mengoperasikan kedua lini produksinya. Tingkat utilisasi kapasitas fasilitas tersebut mencapai sekitar 96% pada September 2026.
Perkembangan juga terlihat pada PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC). Perusahaan tersebut telah menyelesaikan tahapan utama uji coba operasional atau commissioning, memperoleh Izin Usaha Industri (IUI) pada Agustus 2026, serta mulai menerima pasokan bijih nikel pertamanya pada akhir September 2026.
SLNC masih menargetkan produksi perdana mixed hydroxide precipitate (MHP), produk antara nikel dan kobalt yang menjadi bahan baku industri baterai, pada 2026. Untuk mendukung kegiatan tersebut, MBMA mengembangkan integrasi pasokan limonit dari Konawe dengan fasilitas HPAL melalui infrastruktur khusus untuk penyiapan bahan baku dan pengiriman bubur bijih atau slurry.
Integrasi ini menghubungkan kegiatan penambangan dengan proses pengolahan lanjutan. Ketersediaan pasokan bijih dari tambang sendiri menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kesinambungan operasi fasilitas HPAL.
MBMA juga tengah mengevaluasi potensi penambahan kapasitas produksi asam sulfat di fasilitas AIM. Langkah tersebut dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan asam sulfat SLNC seiring peningkatan aktivitas pengolahan.
Selain itu, perusahaan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya pirit dari Tambang Tembaga Wetar untuk mendukung kebutuhan bahan baku dalam rantai produksi asam sulfat.
Baca Juga
Target Saham MBMA Dipangkas Jadi Rp 710, Tapi Masih Berpotensi Naik 42%
Di tengah fluktuasi harga nikel dan tekanan biaya pada segmen pengolahan, MBMA mempertahankan panduan operasional atau guidance untuk 2026. Perusahaan tetap memantau perkembangan harga bahan bakar dan dampak perubahan kerangka HPM terhadap biaya produksi maupun margin setiap segmen usaha.
Model bisnis terintegrasi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketahanan kinerja perusahaan. Ketika kenaikan harga bijih memberikan tekanan pada fasilitas pengolahan, peningkatan harga jual tersebut turut memperbesar pendapatan dan margin dari kegiatan penambangan.
Pada kuartal III/2026, kondisi tersebut tercermin dari rekor produksi bijih nikel yang disertai peningkatan margin saprolit dan limonit, sementara fasilitas pengolahan NPI dan HGNM tetap mencatatkan pertumbuhan volume produksi. MBMA melanjutkan fokus pada peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan keandalan fasilitas produksi hingga akhir 2026.
