Terungkap! 558 Anak Cucu Usaha BUMN Boncos Rp 20 Triliun Tiap Tahun karena Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membeberkan kondisi riil di dalam tubuh korporasi pelat merah. Sebanyak 52% dari total keseluruhan badan usaha milik negara (BUMN) tercatat mengalami kerugian dengan nilai mencapai Rp 20 triliun setiap tahunnya.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan saat ini terdapat total 1.074 perusahaan yang berada di bawah ekosistem pengelolaan Danantara. Dengan persentase tersebut, artinya ada sekitar 558 perusahaan pelat merah yang kinerjanya masih merugi.
"(Sebanyak) 52% dari 1.074 perusahaan itu merugi Rp 20 triliun atau US$ 1,5 miliar setiap tahun," ujar Dony dalam keterangannya di Jakarta dikutip Selasa (27/10/2026).
Baca Juga
Tegas! Danantara Larang Bos BUMN Gunakan Patwal dan Ajudan Berlebihan
Selain persoalan kerugian operasional, Danantara mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan ratusan perusahaan pemerintah itu terus menderita kerugian. Danantara menemukan adanya praktik bisnis yang tidak efisien di lingkungan BUMN, yakni maraknya transaksi berlapis (layering companies). Model bisnis ini membuat setiap entitas di dalam rantai operasional mengambil margin keuntungan sendiri-sendiri, sehingga membengkakkan biaya akhir secara signifikan.
"Sebagian besar perusahaan itu, mereka beroperasi sebagai layering companies. Sebagian besar perusahaan, Anda tahu, mereka mengambil keuntungan dari diri mereka sendiri," tegas Dony.
Sebagai gambaran nyata, Dony yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN itu mencontohkan kasus pada PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Dalam proyek pembangunan jaringan serat optik untuk layanan Indihome, proses pengerjaannya ternyata harus melewati empat perusahaan berbeda di dalam grup. Akibat setiap lapisan mengambil keuntungan, biaya akhir proyek tersebut melonjak hingga 150% lebih tinggi dibandingkan para kompetitor di pasar.
"Jadi, jika dibandingkan dengan para pesaing, biaya kami 150% lebih tinggi daripada mereka. Ini adalah fakta," ungkapnya.
Pola serupa juga ditemukan di tubuh PT Pertamina (Persero). Dalam rantai distribusi, PT Patra Niaga memegang kepemilikan produk, sementara lini pelayaran grup bertugas mengangkutnya. Praktik tersebut kerap melibatkan perusahaan pelayaran internal yang kemudian kembali menyewa pihak swasta untuk menjalankan pengangkutan.
"Dapatkah Anda bayangkan? Jadi perusahaan pelayaran tersebut mengambil keuntungan dari diri mereka sendiri. Dan banyak dari kasus ini (terjadi)," imbuhnya.
Baca Juga
Pimpin Perombakan BUMN, COO Danantara Sebut 364 Perusahaan Sudah Ditutup
Secara akumulatif, inefisiensi yang diakibatkan oleh rantai birokrasi dan transaksi berlapis antar-anak usaha BUMN ini diperkirakan mencapai US$ 2 miliar setiap tahunnya.
Menanggapi karut-marut efisiensi tersebut, Danantara bergerak cepat memangkas struktur bisnis. Sebagai contoh, Danantara telah melebur tiga perusahaan hilir Pertamina, yakni Patra Niaga, Pertamina International Shipping (PIS), dan satu entitas internasional, menjadi satu kesatuan operasional. Langkah restrukturisasi ini diklaim telah menunjukkan efisiensi nyata dalam kurun waktu enam bulan terakhir.
Rangkaian pembenahan ini menjadi bagian dari agenda besar Danantara untuk membersihkan korporasi negara dari beban inefisiensi, guna memastikan BUMN bertransformasi menjadi entitas bisnis yang sehat, kompetitif, dan berorientasi pada nilai tambah bagi perekonomian nasional.
