Indonesia Digital MeetUp 2026 Dorong UMKM Jadi Pemain Utama Ekonomi Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Smesco Indonesia kembali menyelenggarakan Indonesia Digital MeetUp 2026 (IDM26), yang merupakan signature event tahunan Smesco Indonesia setelah sukses diselenggarakan pada tahun 2022 dan 2023.
Resmi dibuka pada hari ini, Kamis (15/10/2026), event strategis ini khusus untuk mempertemukan para expert, komunitas digital dan pengusaha UMKM dengan para stakeholders dalam ekosistem digitalguna mendorong akselerasi transformasi serta membantu pengusaha UMKM naik kelas secara efektif.
Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Yuni Moraza menegaskan pentingnya percepatan transformasi digital bagi pelaku UMKM di Indonesia. Mengingat besarnya potensi ekonomi digitalnasional, UMKM diharapkan tidak sekadar menjadi penonton di pasarnya sendiri, melainkan menjadi pemain utama yang menikmati dampaknya secara nyata.
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, ekonomi digitalIndonesia telah mencapai sekitar US$ 99 miliar pada 2025. Nilai tersebut setara dengan sekitar sepertiga ekonomi digital ASEAN.
"Namun, besarnya pasar ini belum sepenuhnya diikuti oleh investasi dan pengembangan industri teknologi nasional. Bagi kita yang jelas, UMKM tidak boleh hanya menjadi penonton di pasar digitalnya sendiri," ujar Helvi di Convention Hall, Gedung SMESCO Indonesia, Jakarta, Kamis (15/10/2025).
Baca Juga
Akselerasi Digitalisasi UMKM, Smesco Indonesia Hidupkan Kembali Indonesia Digital MeetUp 2026
Di sisi transaksi, kesadaran digital masyarakat menunjukkan tren yang sangat positif. Data Bank Indonesia hingga Juli 2026 mencatat transaksi QRIS telah menembus 15 miliar transaksi dengan 67 juta pengguna dan 45 juta merchant, di mana 96,68% di antaranya merupakan pelaku UMKM.
Meski demikian, Helvi menyoroti adanya paradoks terkait efisiensi dan inovasi teknologi, khususnya pada pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurut Helvi, sebanyak 92% pekerja di Indonesia sudah mengenal AI, dan sekitar 15% di antaranya telah menggunakannya secara aktif.
Kemudian, lebih dari 90% pelaku UMKM belum memanfaatkan AI dalam proses bisnis harian mereka.
"Inilah paradoks kita hari ini, aktivitas digitalmasyarakat tinggi, tetapi tingkat monetisasinya masih rendah," kata Helvi.
Lebih lanjut, banyak pelaku UMKM saat ini menghadapi tantangan besar dalam mengonversi traffic atau jumlah pengikut (followers) menjadi pendapatan riil. Menurut Helvi, konsumen di era digital tidak lagi terpaku pada angka pengikut di media sosial, melainkan pada keandalan sistem pendapatan dan retensi pelanggan.
Pemberdayaan UMKM menjadi kunci mendesak mengingat sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia yang menyerap 97% tenaga kerja serta berkontribusi hingga 60% terhadap PDB nasional. Transformasi digital UMKM juga menjadi pilar strategis untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada tahun 2029 menuju Visi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga
Gandeng Astra, Mendag Ungkap Potensi Ekspor UMKM Desa Capai Rp 69 Miliar
Dukungan Pemerintah: Layanan "SAPA UMKM"
Guna menjawab berbagai tantangan tersebut, pemerintah melalui Kementerian UMKM menghadirkan solusi konkret berupa platform SAPA UMKM. Melalui sistem Single Sign-On (SSO) ini, pelaku UMKM dapat mengakses berbagai program pendampingan dan layanan pemerintah hanya dengan satu akun tanpa perlu mendaftar berulang kali. Hingga saat ini, basis data platform SAPA UMKM telah mencakup 12,7 juta pelaku UMKM di seluruh Indonesia.
Sebagai tambahan informasi, gelaran yang akan berlangsung hingga Jumat (16/10/2026) ini akan diisi dengan kegiatanConference yang akan diisi oleh lebih dari 20 pembicara nasional maupun internasional. Lalu, Exhibition lebih 30 booth dari startup, tools, platform dan berbagai perusahaan yang mempunyai produk untuk menaik kelaskan dan mengembangkan usaha UMKM secara digital.
