Dana Asing Keluar Rp 80 Triliun, Kadin Tetap Bidik Peluang Investasi Rp 2.300 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menilai dunia usaha perlu tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional di tengah tekanan pasar modal, arus keluar dana asing, hingga meningkatnya risiko bencana dan persoalan lingkungan. Menurut dia, optimisme perlu dibangun dengan mempertimbangkan risiko, bukan dengan mengabaikan tantangan yang ada.
Anindya mengungkapkan, dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia pada tahun ini telah mencapai sekitar Rp 80 triliun. Dia juga menyoroti penurunan kinerja pasar modal yang disebutnya mencapai 31%, atau mendekati 40% jika ditambah dampak perubahan nilai tukar.
Baca Juga
Tak Bebani APBN, Ini 3 Tuntutan Utama Pengusaha dalam Revisi UU Kadin
“Jadi memang kita ini di Kadin bisa dibilang mesti memilih. Kita melihatnya ini mau ke kiri atau ke kanan. Soalnya di satu sisi, data terlihat bahwa tahun ini sudah ada Rp 80 triliun dana di pasar modal asing keluar. Pada saat ini, 31% turun di pasar modal kalau ditambah tadi exchange rate, tambah 7% lagi, jadi 38% hampir 40%,” ujar Anindya dalam Rakornas Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup Kadin, Selasa (13/10/2026).
Anindya menyampaikan, di luar tekanan pasar keuangan, Indonesia juga menghadapi risiko bencana alam dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Dia mengingatkan bahwa posisi Indonesia di kawasan ring of fire membuat risiko gempa bumi dan bencana lainnya menjadi tantangan berulang, dengan dampak yang meluas ke sektor sosial, ekonomi, hingga hubungan internasional.
Di tengah tantangan tersebut, pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027. Anindya juga menyinggung target investasi yang diharapkan mencapai Rp 2.000 triliun pada tahun ini dan meningkat menjadi Rp 2.300 triliun pada tahun depan.
“Setiap ada krisis itu selalu ada change of guards, pergantian pemain. Pasti itu,” kata Anindya, merujuk pada pengalamannya menghadapi krisis ekonomi pada 1997–1998.
Baca Juga
Kadin Siapkan Jurus Baru Tangani Bencana, Ekonomi Lokal Jadi Andalan
Target pertumbuhan dan investasi tersebut menjadi alasan untuk tetap mencari peluang di tengah ketidakpastian. Anindya menilai kehadiran Danantara dapat menjadi mitra dunia usaha untuk mengembangkan proyek dan menarik kerja sama investasi dari dalam maupun luar negeri.
“Namun, tidak bisa kita optimistis serta-merta hanya karena ingin kelihatan hebat. Tentu kita mesti hati-hati dalam memilih suatu pilihan. Tapi paling tidak tadi kita diskusi, Danantara ini merupakan engine of growth yang berupaya untuk mencari mitra baik dalam negeri atau luar negeri untuk menjalankan rencana-rencana ini,” ujar Anindya.
