Menkes: Jangan Biarkan Negara Lain Menikmati Pasar Kesehatan Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Belanja kesehatan masyarakat Indonesia harus menjadi penggerak industri dan pencipta lapangan kerja di negeri sendiri. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai besarnya kebutuhan pelayanan kesehatan belum sepenuhnya menghasilkan manfaat ekonomi domestik karena banyak produk yang digunakan masih dipasok dari luar negeri.
Budi mengajak Kadin Indonesia dan investor internasional memperkuat produksi di Indonesia. Menurut dia, investasi dibutuhkan agar pertumbuhan kebutuhan kesehatan turut meningkatkan kemampuan industri nasional, memperluas pekerjaan, dan memperkuat ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerjanya tidak terjadi di Indonesia karena sebagian besar barang yang kita beli berasal dari luar negeri,” ujar Budi dalam Kadin Monthly Economic Diplomacy Breakfast di Aula Leimena, Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Jumat (09/10/2026).
Forum tersebut dihadiri Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie, Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kadin Bidang Luar Negeri James Riady, para duta besar, serta perwakilan dunia usaha. Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir diwakili Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri.
Budi menyampaikan bahwa belanja kesehatan Indonesia, berdasarkan angka yang dipaparkannya, tumbuh sekitar 9–11% per tahun dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan tersebut menunjukkan potensi sektor kesehatan untuk membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan pengeluaran tidak otomatis menghasilkan pertambahan produksi dan pekerjaan dalam negeri. Ketika kebutuhan dipenuhi melalui impor, sebagian manfaat ekonominya mengalir ke negara tempat barang tersebut diproduksi.
“Itulah sebabnya kami bekerja sama dengan Kadin untuk memastikan investasi dari luar masuk ke Indonesia, sehingga kita dapat membangun kemampuan produksi, menciptakan pertumbuhan ekonomi domestik, dan lapangan kerja,” katanya.
Baca Juga
Dukung Budi Pimpin WHO, James Riady: Saat Indonesia Berkontribusi untuk Dunia
Menurut Budi, jumlah penduduk yang besar, kebutuhan pelayanan yang terus berkembang, serta keinginan masyarakat untuk hidup lebih panjang dan sehat memberikan ruang investasi yang luas. Ia meminta para duta besar menyampaikan peluang tersebut kepada pelaku usaha di negara masing-masing.
Budi juga menyoroti hubungan antara peningkatan usia harapan hidup, kualitas layanan, dan kebutuhan belanja kesehatan. Dalam paparannya, ia menggunakan perbandingan dengan Malaysia dan Singapura untuk menggambarkan besarnya ruang pengembangan pelayanan kesehatan Indonesia.
Perbandingan itu disampaikan sebagai ilustrasi peluang pasar apabila kemampuan sistem kesehatan dan pemanfaatan layanan meningkat. Budi melihat kebutuhan tersebut sebagai kesempatan bagi investor untuk membangun kapasitas pelayanan dan produksi di Indonesia.
Di balik pandangannya mengenai industri kesehatan, Budi mengungkapkan pengalaman pribadi yang membentuk prioritasnya sebagai menteri. Ibunya mengalami stroke pada usia 65 tahun di Bogor. Saat itu, meski dirinya memiliki akses luas karena bekerja di jajaran pimpinan sebuah bank besar, ia kesulitan memperoleh pemeriksaan CT scan bagi sang ibu.
Menurut Budi, fasilitas CT scan yang dibutuhkan di Bogor tidak tersedia dalam kondisi berfungsi saat kejadian tersebut. Keluarganya kemudian mencari rumah sakit di Jakarta. Proses hingga ibunya mendapatkan pemeriksaan memakan waktu sekitar enam jam sejak gejala pertama muncul.
Budi menuturkan, ibunya kemudian menjalani sisa hidup dengan keterbatasan berat hingga meninggal pada usia 79 tahun. Ia tidak dapat berjalan, berbicara, maupun menggunakan tangannya sebagaimana sebelumnya.
Pengalaman itu meninggalkan pertanyaan mendalam bagi Budi: mengapa akses terhadap fasilitas yang sangat dibutuhkan belum dapat diperoleh ketika seseorang menghadapi keadaan darurat?
Karena itu, setelah diangkat menjadi Menteri Kesehatan pada Desember 2020 dan menangani pandemi Covid-19, pemerataan fasilitas rumah sakit menjadi salah satu prioritasnya. Ia ingin masyarakat di berbagai daerah memiliki akses lebih baik terhadap pemeriksaan dan pelayanan kesehatan.
Budi menjelaskan, pemerintah menghimpun pembiayaan dari sejumlah lembaga pembangunan multilateral untuk memperkuat peralatan kesehatan di rumah sakit yang melayani 514 kabupaten dan kota. Peralatan tersebut mencakup CT scan, fasilitas kateterisasi jantung, mamografi, serta layanan hemodialisis.
Menurut dia, pengalaman di dunia perbankan membantu dalam mencari pembiayaan bagi kebutuhan transformasi tersebut. Dukungan internasional kemudian diarahkan untuk memperkuat kapasitas pelayanan di dalam negeri.
Budi juga menceritakan perubahan percakapannya dengan para pengusaha yang dahulu menjadi nasabahnya. Ketika ia masih memimpin bank, pembicaraan berkisar pada investasi, risiko, imbal hasil, restrukturisasi perusahaan, dan tambahan pembiayaan.
Setelah dirinya menjadi Menteri Kesehatan, pertanyaan mereka bergeser menuju akses dokter, teknologi medis terbaru, serta kemungkinan menjalani hidup lebih panjang dan sehat. Dari pengalaman itu, Budi melihat betapa tingginya nilai kesehatan bagi seseorang, termasuk bagi mereka yang telah memiliki kekayaan besar. “Saya kemudian menyadari bahwa kekayaan terbesar adalah kehidupan, karena setiap orang ingin hidup panjang dan sehat,” ujarnya.
Pandangan tersebut membuat Budi semakin tertarik mempelajari perkembangan ilmu kesehatan. Ia menyoroti kemajuan bioteknologi, ilmu komputer, dan kecerdasan buatan yang berpotensi meningkatkan pemahaman mengenai tubuh manusia serta mendukung pelayanan yang lebih baik.
Budi memperkirakan perkembangan teknologi tersebut akan membawa perubahan penting dalam pelayanan kesehatan pada lima hingga sepuluh tahun mendatang. Bagi Indonesia, perubahan itu memperkuat kebutuhan membangun kemampuan teknologi dan industri agar dapat mengambil bagian dalam perkembangannya.
Meski menekankan peluang pertumbuhan belanja kesehatan, Budi juga mengingatkan pentingnya efisiensi. Ia menyoroti perbedaan pengeluaran kesehatan antarnegara yang tidak selalu sebanding dengan capaian usia harapan hidup. Perbandingan tersebut, menurut dia, memperlihatkan perlunya transparansi dan pengelolaan sistem yang lebih baik.
Pada bagian akhir sambutannya, Budi menyinggung kebutuhan reformasi WHO dan organisasi internasional lainnya. Dalam konteks pencalonannya sebagai Direktur Jenderal WHO, ia menekankan pentingnya pemimpin yang memiliki pengalaman menjalankan perubahan dalam organisasi besar.
Menurut Budi, pengalaman memimpin transformasi di Bank Mandiri dan sektor kesehatan Indonesia menjadi bekalnya menghadapi tantangan tersebut. Ia menilai reformasi membutuhkan kemampuan mengatasi birokrasi dan mempercepat pelaksanaan perubahan. “Jika ingin mereformasi organisasi global yang besar, dibutuhkan pemimpin yang memiliki rekam jejak menjalankan reformasi besar dalam organisasi besar,” katanya.
