Saleh Husin Titip Empat PR Besar kepada Menperin Sarmuji
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin berharap Menteri Perindustrian (Menperin) yang baru, M. Sarmuji, dapat menuntaskan empat persoalan mendasar yang selama ini menjadi tantangan bagi industri nasional. Keempat persoalan tersebut meliputi ketersediaan bahan baku, penyederhanaan perizinan, penyediaan energi dengan harga kompetitif, serta kepastian berusaha.
Menurut Saleh, penyelesaian keempat persoalan tersebut sangat penting untuk memperkuat daya saing industri nasional, mendorong investasi, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas kesempatan kerja. Terlebih, industri dalam negeri saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat ketidakpastian ekonomi global.
Harapan tersebut disampaikan Saleh menanggapi perombakan Kabinet Merah Putih yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (01/10/2026). Dalam perombakan tersebut, Presiden mengganti Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan menunjuk M. Sarmuji sebagai penggantinya.
Saleh yang pernah menjabat Menteri Perindustrian periode 2014–2016 mengatakan, pergantian menteri merupakan hak prerogatif Presiden. Karena itu, perombakan kabinet merupakan sesuatu yang lumrah dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Menurut dia, Presiden tentu memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan figur yang dinilai tepat untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab pada setiap kementerian.
"Pergantian kabinet merupakan hak prerogatif Presiden dan itu merupakan hal yang lumrah. Tentu Presiden lebih mengetahui siapa yang lebih cocok menjadi pembantunya di bidang masing-masing. Apalagi, kabar mengenai pergantian ini memang sudah berembus sebelumnya," ujar Saleh di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Saleh mengungkapkan, baik Agus Gumiwang Kartasasmita maupun M. Sarmuji merupakan sahabat baiknya. Karena itu, ia berharap pergantian kepemimpinan di Kementerian Perindustrian dapat berlangsung dengan baik dan tetap menjaga kesinambungan program pengembangan industri nasional.
Secara khusus, Saleh menaruh harapan kepada Sarmuji yang memiliki pengalaman panjang sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pengalaman tersebut dinilainya menjadi modal penting untuk memahami persoalan yang dihadapi pelaku industri.
Sarmuji juga pernah bertugas di komisi DPR yang menjadi mitra kerja Kementerian Perindustrian. Dengan latar belakang tersebut, Saleh berharap Menperin yang baru tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk memahami berbagai tantangan struktural industri nasional.
"Terkait dengan ditunjuknya Pak Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian, tentu harapan saya, karena beliau sudah lama menjadi anggota DPR dan pernah di komisi yang menjadi mitra Kementerian Perindustrian, dengan sendirinya beliau mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi industri dalam negeri. Apalagi dalam situasi ekonomi global yang masih terus bergejolak," ujar Saleh.
Empat Persoalan Mendesak
Saleh menjelaskan, persoalan pertama yang perlu mendapatkan perhatian Menperin Sarmuji adalah memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri dalam negeri.
Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesinambungan produksi. Gangguan pasokan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun impor, dapat meningkatkan biaya produksi dan mengurangi daya saing produk industri nasional.
Baca Juga
Resmi Gantikan Agus Gumiwang, Ini Profil Sarmuji yang Jabat Menteri Perindustrian Baru
Karena itu, menurut Saleh, pemerintah perlu memastikan industri memperoleh pasokan bahan baku secara memadai agar kegiatan produksi tidak terganggu.
Persoalan kedua adalah penyederhanaan perizinan industri. Saleh menilai berbagai prosedur perizinan harus terus dipermudah agar tidak menambah beban biaya yang harus ditanggung pelaku usaha.
Perizinan yang berbelit-belit berpotensi memperpanjang proses investasi, menghambat ekspansi kapasitas produksi, serta meningkatkan biaya operasional perusahaan.
Penyederhanaan prosedur dan peningkatan efisiensi pelayanan perizinan diharapkan dapat menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif, baik bagi industri yang sudah beroperasi maupun investor yang berencana membangun fasilitas produksi baru di Indonesia. Persoalan ketiga adalah kemudahan memperoleh energi dengan harga yang berdaya saing.
Energi merupakan salah satu komponen biaya produksi yang penting, terutama bagi industri yang membutuhkan konsumsi listrik dan gas dalam jumlah besar.
Karena itu, akses terhadap energi yang memadai, andal, dan kompetitif menjadi kebutuhan mendasar untuk menjaga kelangsungan kegiatan industri. Saleh berharap Menperin Sarmuji dapat memberikan perhatian terhadap persoalan energi industri agar pelaku usaha nasional mampu bersaing dengan produsen dari negara lain.
Adapun persoalan keempat adalah kepastian berusaha. Menurut Saleh, dunia industri membutuhkan lingkungan usaha yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi maupun mengambil keputusan investasi jangka panjang.
Kepastian berusaha mencakup konsistensi kebijakan, kejelasan regulasi, serta iklim usaha yang memungkinkan perusahaan merencanakan pengembangan bisnis secara berkelanjutan. Tanpa kepastian berusaha, pelaku industri akan menghadapi kesulitan dalam menyusun rencana investasi, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas kegiatan usaha.
Saleh menegaskan, keempat persoalan tersebut saling berkaitan dan perlu mendapatkan perhatian secara bersamaan. Ketersediaan bahan baku dan energi akan membantu menjaga kelancaran produksi, sementara kemudahan perizinan serta kepastian berusaha menjadi landasan bagi pengembangan investasi industri.
"Saya kira kalau keempat hal ini bisa dituntaskan oleh Pak Menperin Sarmuji, maka insya Allah industri nasional kita akan tumbuh pesat dan maju," ujar Saleh.
Harapan tersebut sekaligus mencerminkan pentingnya kebijakan pemerintah yang mampu menjawab kebutuhan riil pelaku industri, terutama dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat.
Industri nasional tidak hanya dituntut mempertahankan kegiatan produksi, tetapi juga meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, penyelesaian berbagai hambatan struktural tersebut diharapkan dapat memberikan ruang lebih luas bagi industri untuk tumbuh dan berkembang.
Apresiasi untuk Agus Gumiwang
Dalam kesempatan yang sama, Saleh juga menyampaikan apresiasi kepada Agus Gumiwang Kartasasmita yang telah menyelesaikan masa pengabdiannya sebagai Menteri Perindustrian.
Menurut Saleh, Agus telah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik selama memimpin Kementerian Perindustrian. Ia mengucapkan selamat kepada Agus yang telah menuntaskan pengabdiannya di kementerian tersebut dan berharap pengalaman yang dimiliki tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung kemajuan industri nasional.
Saleh juga berharap Agus terus memberikan pemikiran dan masukan yang konstruktif bagi pengembangan sektor industri, meskipun tidak lagi menjabat sebagai Menteri Perindustrian. "Saya mengucapkan selamat kepada Pak Agus Gumiwang yang telah paripurna melaksanakan tugas dengan baik dan husnul khatimah. Saya kira, dengan pengalaman yang dimilikinya, beliau diharapkan bisa terus memberikan masukan untuk kemajuan industri dalam negeri," ujar Saleh.
Bagi Saleh, pergantian kepemimpinan di Kementerian Perindustrian merupakan bagian dari dinamika pemerintahan yang harus diikuti dengan kesinambungan kebijakan serta langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan industri.
Ia berharap kepemimpinan Sarmuji dapat membawa semangat baru dalam memperkuat industri nasional, sekaligus memastikan bahwa kebijakan industrialisasi semakin berpihak pada peningkatan daya saing dan keberlanjutan kegiatan usaha.
Empat agenda yang ditekankan Saleh—bahan baku, perizinan, energi, dan kepastian berusaha—menjadi harapan dunia industri kepada Menperin yang baru agar industri nasional tidak sekadar mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi global, tetapi juga memiliki fondasi yang semakin kuat untuk tumbuh dan berkembang.
