Batam Berpeluang Jadi ‘Dubai Kecil’ di Sumatera, Nvidia Jadi Pemicu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Batam berpeluang menjadi ‘Dubai kecil’ di Sumatera dengan memanfaatkan momentum pergeseran investasi global di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah. Peluang tersebut semakin terbuka menyusul masuknya investasi perusahaan raksasa teknologi tinggi asal Amerika Serikat (AS), Nvidia.
“Pemerintah perlu segera memperkuat kebijakan penanaman modal asing (PMA) untuk menjadikan Batam sebagai alternatif investasi yang aman, dekat dengan Singapura, dan kompetitif dari sisi biaya,” kata Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dan Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini dalam keterangan resmi, Selasa (29/9/2026).
Menurut Didik Rachbini, ketika daya beli dan konsumsi di dalam negeri melemah seperti sekarang, kebijakan ekonomi harus inovatif. “Pemerintah harus terus mencari alternatif. Pemerintah tidak bisa bertahan hanya dengan mengandalkan kebijakan sosial yang inward looking (berorientasi ke dalam),” ujar dia.
Didik mengungkapkan, kebijakan pertumbuhan ekonomi harus lebih memberikan ruang bagi ekspor dan investasi berorientasi ke luar (outward looking). Indonesia dapat belajar dari Vietnam yang dalam beberapa dekade terakhir mengubah orientasi ekonominya menjadi lebih terbuka terhadap pasar.
Baca Juga
Data Center Batam Telkom Laris Manis, Kapasitas Penuh Sebelum Beroperasi
“Vietnam bertransformasi dari negara komunis menjadi negara state capitalism yang sangat berorientasi kepada pasar atau market economy. Ini menjadi salah satu kunci keberhasilannya mencapai pertumbuhan ekonomi 7–8%,” tutur dia.
Prof Didik menilai Indonesia akan sulit mencapai pertumbuhan ekonomi 7–8% jika menghindari kebijakan investasi dan ekspor. Karena itu, orientasi ekonomi yang lebih terbuka terhadap modal dan pasar global perlu kembali diperkuat.
Dia mengingatkan, Indonesia pernah memanfaatkan momentum perubahan geopolitik dan ekonomi di kawasan untuk menarik investasi. Salah satunya terjadi pada pertengahan 1980-an ketika Filipina dilanda Revolusi EDSA. Gerakan demonstrasi rakyat secara besar-besaran yang digelar di jalan utama Metro Manila, Epifanio de los Santos Avenue (ESDA) pada 22–25 Februari 1986 itu berujung pada jatuhnya Presiden Ferdinand Marcos setelah sekitar 20 tahun berkuasa.
Didik Rachbini menjelaskan, pada periode tersebut, Manila yang sebelumnya relatif lebih maju dibandingkan Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya di Asia Tenggara menghadapi ketidakstabilan. Kondisi tersebut mendorong sebagian investasi keluar dari Filipina, pindah ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.
“Masalah di satu negara bisa menjadi peluang di negara lain. Indonesia mengambil kesempatan ketika terjadi peristiwa besar tersebut,” tegas Didik.
Momentum itu, kata Prof Didik, semakin kuat karena Indonesia pada saat yang sama menjalankan kebijakan structural adjustment (penyesuaian struktural) untuk membuat perekonomian lebih kompetitif dan berorientasi ke pasar global. Pemerintah ketika itu memperbaiki lingkungan bisnis dan investasi, termasuk memangkas hambatan birokrasi, antara lain di sektor kepabeanan.
“Langkah tersebut dilakukan untuk memperlancar arus ekspor dan impor serta mendorong peningkatan perdagangan internasional,” ucap dia.
Berbagai insentif, menurut Didik, juga diberikan untuk mendorong ekspor, baik melalui fasilitas kredit maupun promosi dan dukungan nonfinansial lewat perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri.
“Hasilnya, ekonomi Indonesia pada 1980-an dan 1990-an bertumbuh 7–8%. Dengan kebijakan yang tepat, ekonomi yang hampir bangkrut karena korupsi berhasil bangkit dengan pertumbuhan tinggi,” tandas dia.
Didik mengaitkan pengalaman tersebut dengan situasi Timur Tengah saat ini. Meskipun negara-negara di kawasan Teluk, seperti Uni Emirat Arab, Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar tidak sedang mengalami eksodus investasi dalam skala besar, ketidakpastian keamanan dapat memengaruhi keputusan investor dan mendorong diversifikasi geografis.
“Ketegangan geopolitik seperti ini bisa mendorong sebagian investor keluar atau setidaknya melakukan diversifikasi geografis. Peluang tersebut dapat dimanfaatkan Indonesia dengan menempatkan Batam dan kawasan sekitarnya sebagai alternatif tujuan investasi di Asia,” papar dia.
Prof Didik menegaskan, Batam memiliki sejumlah keunggulan strategis karena berada dekat dengan Singapura, berada di jalur pelayaran internasional, serta memiliki kawasan ekonomi dengan berbagai fasilitas investasi.
“Batam bisa dan seharusnya diposisikan sebagai alternatif investasi Asia yang aman, dekat Singapura, dan murah. Hanya saja, pemerintah harus mampu membangun kebijakan yang menjamin kepastian hukum dan regulasi yang baik serta aman untuk investasi,” ujar dia.
Batam dan Warisan Habibie
Didik Rachbini mengatakan, Batam bukan kawasan yang baru dirancang untuk menjadi pusat investasi. Pengembangan Batam sebagai kawasan ekonomi strategis telah dirintis sejak era 1970-an dan 1980-an, termasuk melalui gagasan BJ Habibie untuk membangun Batam dengan orientasi industri dan perdagangan internasional.
Menurut dia, perkembangan Batam saat ini menunjukkan potensi tersebut. Namun, Batam masih memiliki ruang yang besar untuk berkembang jika dibandingkan kawasan ekonomi lain di Asia, termasuk Shenzhen di China.
“Batam dahulu adalah pulau dengan penduduk sekitar 7.000 orang. Kini penduduknya sudah lebih dari 2 juta. Dengan posisi dan perkembangan yang ada, Batam bisa direncanakan menjadi ‘Dubai kecil’ di Sumatera,” tutur dia.
Dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Batam juga menjadi salah satu faktor pendukung. Ekonomi Batam pada kuartal terakhir tumbuh sekitar 7%, dengan dinamika ekonomi yang kuat karena kedekatannya dengan Singapura.
“Hubungan geografis dan ekonomi dengan Singapura merupakan keunggulan yang dapat terus dikembangkan. Ketika Singapura menghadapi keterbatasan ruang dan biaya yang relatif tinggi, Batam dapat menjadi kawasan alternatif bagi investasi yang membutuhkan kedekatan dengan pusat bisnis tersebut,” papar dia.
Data investasi juga menunjukkan perkembangan positif. Investasi di Batam pada 2025 mencapai Rp69,3 triliun. Dari jumah itu, sektor digital menyumbang sekitar Rp8,56 triliun. Pada saat yang sama, pemerintah mendorong kawasan Batam–Bintan–Karimun sebagai pusat industri hijau yang terhubung dengan rencana kerja sama listrik bersih antara Indonesia dan Singapura.
Nvidia dan Masa Depan Pusat Data
Didik Rachbini menekankan, salah satu peluang terbesar adalah investasi di sektor teknologi tinggi, khususnya rencana pengembangan infrastruktur pusat data kecerdasan buatan (AI) oleh Nvidia. Rencana investasi Nvidia di Batam mencapai US$4,5 miliar, setara Rp80,55 triliun.
Dia berpandangan, masuknya perusahaan teknologi global berskala besar dapat menjadi pemicu bagi investasi lanjutan di kawasan tersebut. “Dengan satu investor besar dan signifikan seperti ini, investasi Batam bisa naik dua sampai tiga kali lipat,” tegas Didik.
Nvidia berencana mengembangkan Nvidia DSX AI Factory di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam. Proyek tersebut akan melibatkan Firmus Technologies, perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) asal Australia, serta Day One dari Singapura. Pengoperasian fasilitas ini ditargetkan berlangsung secara bertahap mulai kuartal I-2027 hingga 2028.
Didik mengungkapkan, masuknya investasi perusahaan teknologi tinggi tersebut dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian, termasuk menciptakan lapangan kerja dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok teknologi global.
“Kuncinya adalah kebijakan investasi. Jika kepala naga sudah masuk dan percaya, badan dan ekornya akan segera ikut masuk ke dalam,” tandas dia.
Itu sebabnya, Didik Rachbini mendorong pemerintah tidak hanya berfokus pada kebijakan hilirisasi sumber daya alam, tetapi juga membangun kebijakan yang mampu menarik investasi teknologi tinggi.
“Selain gempita dengan kebijakan mengolah sumber daya alam, kita perlu kebijakan investasi untuk menarik teknologi tinggi seperti Nvidia guna mendukung pertumbuhan ekonomi,” ucap dia.
Didik menilai Batam memiliki modal dasar yang kuat untuk menjadi pintu masuk investasi global, mulai dari posisi geografis, kedekatan dengan Singapura, jalur pelayaran internasional, hingga berbagai fasilitas investasi yang tersedia.
Baca Juga
Dari sisi fasilitas, kata dia, Batam memiliki status free trade zone (FTZ) atau kawasan perdagangan bebas dengan berbagai fasilitas, termasuk pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), dan sejumlah bea tertentu.
Adapun fasilitas KEK Batam mencakup tax holiday (pembebasan pajak untuk periode tertentu), investment allowance (pengurangan penghasilan kena pajak berdasarkan investasi), percepatan amortisasi, serta berbagai fasilitas kepabeanan.
“Batam sudah layak go global dan sudah ditetapkan layak oleh Nvidia. Tinggal pemerintah siap atau tidak melayani minat investor ini,” ujar Didik.
Menurut dia, apabila kepastian hukum, kualitas regulasi, insentif, infrastruktur, dan layanan investasi dapat diperkuat, Batam berpotensi menjadi salah satu pusat baru investasi global di kawasan Asia.
“Batam bisa menjadi ‘Dubai kecil’ di Sumatera karena sudah memiliki keunggulan sejak keberadaannya. Secara geografis strategis, berimpit dengan kota global Singapura, dan berada di jalur pelayaran internasional,” jelas Didik Rachbini.
