Kisah Guru di Daerah 3T dan Perjuangan 100 Km untuk Belajar AI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Ada satu hal menarik dari program CSR Telkomsel Terpujilah Guru. Acara yang mempertemukan guru dari berbagai daerah untuk belajar memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sangat berkesan bagi Tressya Litaay dan A. Arief Rachman. Menurut mereka program ini bukan sekadar pelatihan, tetapi ruang untuk berkembang bersama murid.
Tressya atau Bu Echa merupakan guru Matematika SMAN 38 Maluku Tengah. Sementara Arief atau Pak Arief mengajar Teknik Jaringan Komputer dan Rekayasa Perangkat Lunak (TKJ/RPL) di SMKN 1 Garut.
Bu Echa mengenal program ini dari iklan Instagram dan awalnya hanya iseng mengikuti tes. Ia kemudian lolos dari 3.800 peserta ke 400 besar, 80 besar hingga akhirnya masuk 12 finalis terpilih yang hadir di Jakarta.
Bagi Bu Echa, AI penting dikenalkan karena sekolahnya berada di 3T dengan keterbatasan sinyal dan perangkat. Ia bahkan membuat video animasi materi kubus bantuan aplikasi CapCut dan Google Flow agar pembelajaran lebih menarik bagi siswa.
“Kalau saya, saya ini apresiasi yang pertama kali saya dapatkan ini. Sebenarnya banyak kegiatan yang saya ikuti, tapi ini adalah kegiatan yang menurut saya apresiasinya tuh bagus, bagus sekali,” ujar Echa dalam kegiatan Puncak Anugerah Terpujilah Guru di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga
Gandeng Snowflake, Telkomsel Enterprise Perluas Bisnis Data di Indonesia
Pengalaman berbeda juga datang dari Pak Arief yang telah mengajar sejak 2012 dan kini berusia 52 tahun. Setiap hari, ia menempuh perjalanan sekitar 100 kilometer dari Tasikmalaya menuju sekolahnya di Garut.
Saat ditemui oleh awak media, mata Pak Arief tampak berkaca-kaca. Ia merasa tersentuh atas apresiasi yang diberikan dari pengabdiannya selama in.
“Jadi saya merasa apa yang saya perjuangkan selama ini tidak sia-sia, gitu. Seperti itu. Saya sangat terharu dan merasa bangga sekali dengan masuknya saya ke Terpujilah Guru ini,” kata Arief.
Lewat program tersebut, Arief juga mengubah cara mengajar di kelas. Jika sebelumnya lebih banyak mengandalkan papan tulis, kini ia mendorong siswa lebih aktif membuat presentasi, infografis, dan video sesuai minat mereka.
Keduanya juga berharap program Terpujilah Guru tidak berhenti pada 12 finalis. Echa khususnya berharap lebih banyak guru di daerah terpencil mendapat akses pelatihan AI melalui roadshow ke wilayah pedesaan.
“Kalau guru di kota mungkin sudah biasa kan tentang AI, tapi di daerah kami masih perlu dikembangkan,” harap Echa.
Menurut Echa, dampaknya mulai terasa ketika ia membagikan hasil pembelajarannya di media sosial. Guru-guru dari daerah lain kemudian ikut bertanya dan meminta diajarkan cara membuat materi menggunakan teknologi AI.
Baca Juga
Telkomsel Tak Khawatir Saham GOTO "Gocap", Investasi Berorientasi Jangka Panjang
Sebelumnya diketahui program Terpujilah Guru dari Telkomsel digelar sejak Mei 2026. Peserta berasal dari guru di jenjang SMP, SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah, baik negeri maupun swasta. Program ini pun terbuka bagi guru ASN, non-ASN hingga honorer dari berbagai mata pelajaran.
Ke depan, Telkomsel akan memantau dampak program terhadap 12 finalis dan memetakan sebaran peserta untuk menentukan wilayah prioritas. Indonesia Timur menjadi salah satu perhatian karena mencatat antusiasme tinggi.
Telkomsel juga menyiapkan platform EduCreator melalui terpujilahguru.id bagi alumni untuk berbagi materi dan inovasi pembelajaran. Sebanyak 12 finalis akan didorong menjadi ambassador atau local hero dalam roadshow berikutnya.
