Implementasi ICA-CEPA Ditargetkan Akhir 2026, Ekspor RI ke Kanada Bisa Tembus US$ 11,8 Miliar
Poin Penting
|
TORONTO, investortrust.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Internasional Kanada The Honourable Maninder Sidhu di sela-sela agenda Canada Investment Summit di Toronto, Kanada, pada Senin, 14 September 2026. Pertemuan tersebut berlangsung pada momentum penting seiring transisi hubungan perdagangan kedua negara dari tahap ratifikasi menuju tahap implementasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) di tengah dinamika pasar global.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Menko Airlangga menyampaikan bahwa hubungan perdagangan bilateral antara Indonesia dan Kanada terus mencatatkan pertumbuhan yang stabil. Rata-rata pertumbuhan tahunan perdagangan kedua negara mencapai 9,13% sejak tahun 2021, di mana total nilai perdagangan pada Semester I-2025 tercatat sebesar US$ 3,1 miliar atau meningkat 13% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
ICA-CEPA sendiri menjadi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif pertama yang dimiliki Indonesia dengan negara di kawasan Amerika Utara, setelah resmi ditandatangani oleh Menteri Perdagangan serta disaksikan oleh Kepala Negara kedua negara pada September 2025.
Perjanjian ini dirancang untuk memperkuat hubungan ekonomi, sekaligus membuka akses pasar, investasi, dan kerja sama yang lebih luas dengan mitra strategis. Menko Airlangga menyampaikan optimisme kedua negara dalam mempersiapkan implementasi perjanjian yang dijadwalkan dapat berjalan pada akhir tahun ini.
Baca Juga
Menko Airlangga Ajak Pelaku Usaha ASEAN-Kanada Maksimalkan Implementasi Perjanjian ICA-CEPA
Melalui skema kesepakatan ICA-CEPA, Kanada akan menghapus atau menurunkan tarif pada lebih dari 90% pos tarif untuk produk Indonesia, sedangkan Indonesia akan melakukan hal serupa untuk hampir 86% pos tarif produk Kanada. Seiring implementasi penuh perjanjian ini, nilai ekspor Indonesia ke Kanada diproyeksikan mampu meningkat hingga USD 11,8 miliar pada tahun 2030. Peluang kerja sama tersebut terbuka lebar di berbagai sektor strategis seperti hilirisasi mineral kritis, energi bersih, agripangan dan perikanan berkelanjutan, infrastruktur, hingga jasa keuangan dan digital.
Selain bernilai ekonomi, ICA-CEPA memegang peranan strategis bagi posisi Indonesia sebagai ekonomi terbesar di kawasan ASEAN. Indonesia berperan penting dalam memperluas keterlibatan Kanada di kawasan Indo-Pasifik sekaligus menjadi pintu gerbang penguatan jaringan perdagangan Kanada dengan ASEAN secara keseluruhan. Oleh karena itu, kesiapan implementasi perjanjian ini menjadi prioritas utama agar dampak positifnya dapat segera dirasakan oleh dunia usaha di kedua negara.
Guna memastikan efektivitas perjanjian, kedua Menteri sepakat untuk berkolaborasi mengatasi sejumlah tantangan implementasi. Tantangan tersebut mencakup penyesuaian persyaratan standardisasi, praktik keberlanjutan dan ketenagakerjaan, peningkatan kapasitas UMKM agar mampu memanfaatkan peluang pasar baru, serta penguatan infrastruktur logistik dan fasilitasi perdagangan Indonesia agar tetap memiliki daya saing tinggi.
Kedua pihak menegaskan komitmen untuk memastikan seluruh manfaat dari kesepakatan perdagangan ini dapat terdistribusi secara merata. Ke depan, fokus kerja sama Indonesia dan Kanada diarahkan pada langkah implementasi konkret, seperti percepatan dialog kerja sama mineral kritis serta kerja sama teknis ekonomi. Menko Airlangga menutup pertemuan dengan menegaskan tujuan utama dari kolaborasi ini. "Pertemuan hari ini menegaskan komitmen bersama Indonesia dan Kanada untuk memastikan ICA-CEPA benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha di kedua negara," tutup Menko Airlangga, dikutip Kamis (17/9/2026).
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Menko Airlangga didampingi oleh Duta Besar Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Pambudi, serta Konsul Jenderal Indonesia di Toronto Vevie Damayanti.
