Harga Emas Dunia Turun 1,2% Seusai The Fed Naikkan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah setelah bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan, mendorong dolar AS menguat sehingga mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas spot turun 1,2% menjadi US$ 4.240,1 per ons pada perdagangan Rabu (17/9/2026) pukul 15.10 waktu setempat. Penurunan tersebut terjadi setelah harga emas sempat naik lebih dari 1% ke level tertinggi sesi di US$ 4.365,57 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember justru ditutup naik 1,3% menjadi US$ 4.387,50 per ons.
The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4,00%. Keputusan tersebut diambil secara bulat, dengan pejabat The Fed Kevin Warsh turut bergabung dalam keputusan tersebut.
Baca Juga
Produksi Emas Antam (ANTM) Cuma 0,83%, MIND ID Soroti Besarnya Peran Tambang Rakyat
Kenaikan suku bunga mencerminkan perhatian bank sentral terhadap inflasi yang masih tinggi. Kebijakan tersebut juga meningkatkan biaya pinjaman dan berpotensi menekan permintaan aset yang tidak menghasilkan pendapatan bunga seperti emas.
Berbicara setelah keputusan suku bunga, Warsh mengulangi pernyataan resmi dengan menegaskan komitmen komite kebijakan The Fed terhadap stabilitas harga.
“Komentar Warsh ditafsirkan sebagai sikap agresif di atas grafik proyeksi suku bunga yang juga agresif, yang memperkuat pandangan bahwa akan ada kenaikan suku bunga tambahan dalam pertemuan mendatang. Hal itu membantu dolar dan akan menekan harga logam dalam jangka pendek,” kata pedagang logam independen Tai Wong dilansir CNBC.
Dolar AS menguat terhadap euro setelah pengumuman The Fed. Penguatan mata uang tersebut membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar AS.
Warsh juga menyoroti tekanan inflasi yang masih berlangsung. Menurut dia, inflasi AS terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama. “Fokus utama kami adalah pada sisi stabilitas harga dari mandat kami. Faktanya, inflasi terlalu tinggi, dan sudah terlalu lama. Angka inflasi musim panas ini tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren mendasar telah membaik secara signifikan,” kata Warsh.
Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga meningkat, investor dapat mempertimbangkan aset berbunga yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Tekanan inflasi AS juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor ekonomi dan geopolitik. Tarif impor global yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump, guncangan energi setelah dimulainya perang AS-Israel dengan Iran, serta peningkatan belanja modal akibat perkembangan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi perhatian pasar.
Baca Juga
Harga minyak mentah Brent turun setelah laporan mengenai tambahan kargo minyak mentah Arab Saudi melalui Oman meredakan kekhawatiran pasokan dari kawasan tersebut. Penarikan minyak mentah AS yang lebih kecil dari perkiraan turut menambah tekanan terhadap harga minyak. Perubahan harga energi menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter.
Adapun harga perak turun 1,7% menjadi US$ 62,57 per ons. Platinum melemah 2,3% menjadi US$ 1.735,33 per ons, sedangkan paladium turun 1,5% menjadi US$ 1.269,95 per ons.
