Harga Emas Jatuh 1,8% ke Level Terendah dalam Lebih 1 Bulan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia jatuh ke level terendah dalam lebih dari satu bulan pada Senin (14/9/2026), setelah kenaikan harga minyak dan data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan kebijakan pekan ini. Tekanan terhadap logam mulia meningkat karena investor mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Harga emas spot turun 1,8% menjadi US$ 4.271,59 per ons, level terendah sejak 7 Agustus. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS merosot 2,2% menjadi US$ 4.311,20 per ons.
Baca Juga
MUTU International Masuk Empat Lembaga Pelaksana Pemastian Produk Halal
“Harga minyak mentah hari ini melonjak tajam, yang mendorong ekspektasi inflasi dan menunjukkan bahwa bank sentral utama dunia harus memperketat kebijakan moneter mereka untuk mengendalikan inflasi, dan itu berdampak negatif bagi logam mulia,” kata Analis pasar di American Gold Exchange Jim Wyckoff dikutip Reuters.
Sebagian besar ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan Federal Reserve menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9/2026) dan memberikan setidaknya satu kenaikan tambahan hingga akhir Maret. Proyeksi tersebut membalikkan konsensus sebelumnya yang masih memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga.
Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index meningkat 0,4% pada bulan lalu, setelah hanya naik 0,1% pada Juli. Data tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan inflasi dan meningkatkan kemungkinan Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan kenaikan harga.
Berdasarkan alat CME FedWatch, pedagang memperkirakan probabilitas sekitar 89% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan Federal Reserve.
Harga Minyak Melonjak, Dolar AS Menguat
Selain faktor inflasi dan suku bunga, kenaikan harga minyak turut menekan harga emas. Harga minyak naik sekitar 4% pada Senin setelah serangan baru terhadap infrastruktur energi dan sipil Arab Saudi serta serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk meningkatkan kekhawatiran pasokan.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah penutupan jalur pipa minyak utama Arab Saudi. Gangguan pasokan energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Diplomasi Timur Tengah juga menghadapi ketidakpastian setelah pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk lainnya ditunda. Kondisi tersebut menambah perhatian pasar terhadap risiko geopolitik dan stabilitas pasokan energi.
Di pasar valuta asing, dolar AS naik ke level tertinggi dalam dua minggu. Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Baca Juga
Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 Naik di Pegadaian Hari Ini
Sementara harga perak spot turun 2,5% menjadi US$ 62,88 per ons. Platinum merosot 2% menjadi US$ 1.759,87 per ons, sedangkan paladium turun 0,6% menjadi US$ 1.291,50 per ons.
Bank Sentral Jepang juga diperkirakan menaikkan suku bunga pada Jumat, di tengah kenaikan harga energi dan sedikit tanda meredanya ketegangan di Timur Tengah.
