Panas Bumi Makin Kompetitif, ESDM Bidik Kapasitas Geotermal 5,2 GW
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah terus mendorong pengembangan energi panas bumi sebagai salah satu andalan dalam meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional. Selain memiliki potensi besar, panas bumi dinilai mampu bersaing dengan pembangkit berbasis fosil karena dapat memasok listrik secara stabil selama 24 jam.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, karakteristik panas bumi membuat sumber energi ini memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah energi terbarukan lainnya yang bergantung pada kondisi cuaca.
“Panas bumi yang kita kenal ini nantinya sangat bisa bersaing dengan diesel, sangat bisa bersaing dengan bahan bakar bahan bakar dari fosil, batu bara ataupun diesel karena 24 jam bisa menghadirkan listrik. Ini salah satu energi terbarukan yang sangat kita andalkan dan potensi terbesar ada di Indonesia,” ujar Eniya dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Menurut Eniya, kapasitas terpasang panas bumi Indonesia saat ini masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas geotermal terbesar kedua di dunia. Pemerintah berharap posisi tersebut semakin diperkuat melalui implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN yang telah disahkan.
“Instal kapasitas (geotermal) kita masih nomor dua di dunia, tetapi dengan adanya RUPTL PLN yang sudah disahkan, ini capaian kita kita harapkan naik 5,2 gigawatt sehingga bauran energi baru terbarukan porsinya bisa naik,” ungkap Eniya.
Baca Juga
Geotermal Tak Sekadar Listrik, Ini Strategi Baru Pertamina untuk Dorong Ekonomi
Saat ini, porsi EBT dalam bauran energi nasional berada di kisaran 17%. Eniya menyebutkan, pada triwulan I-2026 sempat tercatat sekitar 18%, namun kemudian terkoreksi menjadi sekitar 16,8% hingga 17% seiring masuknya pembangkit gas dan sumber energi lainnya.
Dari komposisi tersebut, biodiesel atau fatty acid methyl ester (FAME) masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 5,2%. Selanjutnya, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menyumbang sekitar 3,5%, sedangkan panas bumi saat ini berkontribusi sekitar 2,2% terhadap bauran energi nasional.
Pemerintah menargetkan kontribusi panas bumi meningkat menjadi sekitar 4,5% setelah tambahan kapasitas 5,2 GW dalam RUPTL terealisasi. Sementara itu, energi surya masih memiliki porsi relatif kecil, yakni sekitar 0,5%, sehingga menjadi salah satu sektor yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
“Nah ini yang perlu kita berikan atensi, arahan Pak Presiden juga sudah ada pengembangan PLTS, kita harapkan itu bisa menjadi kontributor untuk menaikkan energi baru terbarukan,” kata Eniya.
Sejalan dengan percepatan pengembangan panas bumi, Kementerian ESDM juga telah menerbitkan sejumlah keputusan terkait izin dan penugasan wilayah kerja panas bumi. Salah satunya adalah wilayah kerja panas bumi Gunung Ungaran yang nantinya diberikan kepada PLN.
Selain itu, wilayah kerja panas bumi Telaga Ranu akan diberikan kepada PT Telaga Ranu Geothermal. Pemerintah juga memberikan penugasan baru untuk survei pendahuluan panas bumi dan kegiatan eksplorasi di wilayah Cubadak Panti kepada Pertamina Geothermal Energy (PGE).
Adapun penugasan survei pendahuluan di wilayah Bituang diberikan kepada PT Cakrawala Bituang Geothermal. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas eksplorasi dan mempercepat pemanfaatan potensi panas bumi nasional.

