Harga Telur Ayam di Peternak Masih Rendah, Mendag Andalkan MBG Serap Produksi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan harga telur ayam di tingkat peternak masih relatif rendah, meski harga di tingkat konsumen sudah lebih tinggi. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena dapat menekan keberlangsungan usaha peternak.
Mendag Budi menyebutkan, berdasarkan pemantauan pemerintah, harga telur ayam ras rata-rata nasional saat ini berada di kisaran Rp26.000 per kilogram. Angka tersebut masih berada di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp30.000 per kilogram.
"Kalau telur misalnya ya, harga telur itu harga rata-rata nasionalnya Rp26.000, HET-nya kan Rp30.000," kata Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2026).
Menurut Mendag Budi, salah satu upaya pemerintah untuk membantu menyerap produksi telur dari peternak adalah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penyerapan oleh program tersebut dinilai dapat membantu menjaga permintaan terhadap produk peternakan.
"Tadi kan Pak Kepala Bapanas Pak Amran juga menyampaikan bahwa akan memperpanjang SPHP untuk pakan ya sampai sampai Desember. Kemudian penyerapan di SPPG (dapur MBG) ya, jadi SPPG ini sangat membantu atau MBG sangat membantu untuk penyerapan produk-produk telur dan daging," terangnya.
Selain melalui MBG, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga mendorong distribusi telur dari daerah yang mengalami surplus produksi ke wilayah yang kekurangan pasokan. Upaya tersebut dilakukan melalui business matching antardaerah.
"Terus yang kedua dari kemarin ya antardaerah. Ya, dari beberapa hari yang lalu kita sudah melakukan business matching antarwilayah. Jadi kita ingin menyuplai dari yang daerah surplus ini ke daerah yang kurang ya, artinya kurang pasokannya, terutama di wilayah timur," papar Mendag Budi.
Mendag Budi mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah pertemuan secara daring dengan pelaku usaha dan pemerintah daerah untuk mempertemukan daerah surplus dengan daerah yang membutuhkan pasokan. Diharapkan, langkah tersebut dapat segera ditindaklanjuti dengan pengiriman produk.
"Kemarin sudah berapa kali zoom meeting, mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa dikirim," tandasnya,

