Penerapan Standar BBM Euro 5 Bisa Hemat Subsidi Rp 50 Triliun
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia sedang mencoba mempercepat penerapan standar bahan bakar minyak (BBM) Euro 5.
Menurut Luhut, penerapan standar BBM Euro 5 merupakan suatu keharusan. Pasalnya, bahan bakar dalam standar Euro 5 memiliki tingkat sulfur yang lebih rendah. Selain itu, penerapan Euro 5 juga bisa menghemat subsidi hingga Rp 50 triliun.
“Itu sekarang sudah dikerjakan Pertamina. Saya kira tim saya dengan Pertamina sedang kerjakan. Malah dari kemarin saya dapat info ini sedang dihitung lagi. Itu akan mengurangi subsidi kita mungkin bisa sampai Rp 20-50 triliun lagi dari sana,” kata Luhut dalam unggahannya di Instagram, Jumat (23/1/2024).
Dijelaskan Luhut, pemerintah sedang mencoba mencari level ekuilibrium atau titik keseimbangannya. Dengan beralih bergerak ke penerapan standar Euro 5, kualitas udara agar menjadi lebih baik utamanya di wilayah padat kendaraan seperti Jakarta.
Baca Juga
Luhut: Atasi Polusi Udara, Konversi Motor Listrik Salah Satu Upayanya
Sebagai informasi, Euro 5 adalah standar emisi kendaraan untuk mengatur ambang batas kadar polutan yang dapat dikeluarkan oleh suatu kendaraan. Standar emisi ini digagas oleh Uni Eropa.
Sejak 2018 Indonesia telah menerapkan standar BBM EURO 4. Hal ini itu tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 20 Tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O.
Standar EURO 4 yang diterapkan tersebut mengharuskan Indonesia memiliki batas emisi Karbon Monoksida (CO) 1 gram/km, Hidrokarbon (HC) 0,1 gram/km, Nitrogen Oksida 0,08 gram/km untuk mesin bensin.
Tidak hanya itu, spesifikasi BBM dengan standar Euro 4 adalah memiliki research octane number (RON) minimal 91, bebas timbal, dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm.
Selain mengupayakan penerapan standar EURO 5, Luhut menyebut pemerintah juga tetap memikirkan hal-hal lain terkait dengan pengurangan emisi karbon untuk mewujudkan Net Zero Emission 2060.
“Di samping tentunya PLTU dan lainnya juga kita kerjakan, juga soal pembakaran-pembakaran. Jadi masalahnya kompleks banget. Jadi jangan terus bilang ini pemerintah begini, begitu. Tidak. Kita mencari format yang terbaik,” terang Luhut.
Luhut berharap segala upaya ini bisa menciptakan udara bersih dan lingkungan yang lebih baik. Sebab, ia menilai kualitas udara sekarang, utamanya di Jakarta, sudah sangat buruk.
“Sehingga PM 2,5 itu, yang partikel-partikel bisa masuk ke darah itu akan banyak kita kurangi. Sehingga anak cucu kita atau kita sendiri juga terselamatkan akibat dari polusi udara yang jorok,” tegas Luhut.

