ESDM: Hidrogen Tak Gantikan Mobil Listrik, Segmennya Berbeda
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan pengembangan hidrogen sebagai bahan bakar transportasi tidak ditujukan untuk menggantikan kendaraan listrik berbasis baterai (electric vehicle/EV). Sebaliknya, kedua teknologi tersebut akan saling melengkapi karena menyasar kebutuhan penggunaan yang berbeda.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, kendaraan listrik berbasis baterai lebih cocok digunakan untuk mobilitas harian dengan jarak tempuh relatif pendek. Pengisian daya pun idealnya dilakukan di rumah pada malam hari.
Baca Juga
Bahlil: Hidrogen Bakal Saingi Mobil Listrik dalam 5-10 Tahun
“Konsep EV itu untuk jarak tertentu dan lebih baik ngecasnya di rumah. Jadi memang arah dari hasil teman-teman BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) itu diarahkan dipakai di siang hari terus-menerus, nanti malam hari balik ke rumah bisa dicas,” ujar Eniya saat ditemui di sela Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Sementara itu, kendaraan hidrogen dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan transportasi jarak jauh yang membutuhkan waktu pengisian energi lebih singkat serta daya jelajah lebih panjang. “Nah, kalau konsepnya hidrogen itu jarak jauh,” kata Eniya.
Menurut Eniya, Indonesia juga tengah mengembangkan pendekatan berbeda dalam pemanfaatan hidrogen. Jika sejumlah negara, seperti Jepang dan Amerika Serikat (AS) mengembangkan kendaraan hidrogen berbasis fuel cell, Indonesia justru menguji pemanfaatan hidrogen melalui teknologi dual fuel combustion.
Dalam skema tersebut, gas hidrogen diinjeksikan langsung ke ruang bakar mesin konvensional yang tetap menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar utama. Kombinasi tersebut membuat proses pembakaran menjadi lebih efisien.
“Pertama kali kita coba combustion di Indonesia, yaitu membakar hidrogen yang di-injection ke engine. Yang ada di sini memakai biosolar. Ini contoh penggunaan dual fuel,” jelasnya.
Dia mengatakan, teknologi dual fuel memungkinkan mesin menggunakan dua jenis bahan bakar secara bersamaan, sehingga konsumsi biodiesel dapat ditekan secara signifikan. “Dengan adanya tambahan pembakaran di engine itu membuat bahan bakarnya lebih irit lagi, dua kali lipat. Nah, untuk biodiesel dua kali lipat,” ujar Eniya.
Baca Juga
Kolaborasi Pertamina NRE–Belanda Pacu PLTS dan Hidrogen Hijau di Indonesia
Untuk itu, dia memastikan pengembangan hidrogen tidak akan menjadi pesaing kendaraan listrik berbasis baterai. Pemerintah justru melihat kedua teknologi tersebut memiliki peran masing-masing dalam mendukung transisi energi di sektor transportasi.
“Kalau untuk EV tidak bersaing karena segmennya berbeda,” tegasnya.

