Impor Tumbuh Pesat di Mei 2026, Migas Melesat 70,78%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan yang pesat pada impor barang Indonesia selama Mei 2026. Impor tumbuh 22,16% secara tahunan (year on year/yoy) dengan nilai US$ 24,81 miliar. Pada periode tersebut, impor migas dan nonmigas masing-masing melesat 70,78% dan 14,89% (yoy).
Salah satu pendorong melejitnya impor pada Mei 2026 yaitu migas. “Impor migas mencapai US$ 4,51 miliar, meningkat 70,78% secara tahunan,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Di sisi lain, menurut Ateng, impor nonmigas melonjak 14,89% dengan nilai US$ 20,3 miliar. Peningkatan impor nonmigas mendorong keseluruhan nilai impor pada Mei 2026 karena memiliki andil sebesar 12,95%.
Baca Juga
Bahlil Targetkan E20 Meluncur 2028, Bisa Pangkas Impor Bensin 4 Juta KL
BPS juga mencatat terjadi peningkatan terhadap seluruh komponen barang impor berdasarkan penggunaannya. Impor barang konsumsi naik 21,99% (yoy) menjadi US$ 2,23 miliar, impor bahan baku atau penolong naik 25,17% (yoy) menjadi US$ 17,58 miliar, dan impor barang modal naik 12,7% (yoy) menjadi US$ 5 miliar.
“Nilai impor bahan baku/penolong, sebagai pendorong utama kenaikan impor memiliki andil terhadap peningkatan impor sebesar 17,41%,” ujar Ateng.
Secara kumulatif Januari-Mei 2026, kata Ateng Hartono, tiga negara menjadi penyumbang impor terbesar Indonesia, yaitu China, Jepang, dan Australia. Impor dari China tercatat US$ 39,27 miliar, didominasi komoditas mesin/peralatan mekanis dan sebagainya sebesar US$ 8,73 miliar dengan porsi 22,24% terhadap impor asal China.
Baca Juga
Dia menambahkan, komoditas impor lain yaitu mesin/peralatan elektrik dan bagiannya senilai US$ 8,43 miliar dengan porsi 21,46%. Sedangkan impor komoditas plastik dan barang dari plastik bernilai US$ 2,33 miliar dengan porsi 5,95%. Nilai impor plastik tumbuh 51,72% secara kumulatif.
Ateng mengungkapkan, impor nonmigas dari Jepang mencapai US$ 5,17 miliar. Meski begitu, terjadi kontraksi impor tiga komoditas utama dari Jepang, yaitu mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, besi dan baja, dan juga kendaraan dan bagiannya.
Adapun impor nonmigas dari Australia mencapai US$ 5,02 miliar. Tiga komoditas utama pendorong impor nonmigas dari negara ini yaitu logam mulia dan perhiasan/permata yang mencapai US$ 1,5 miliar dengan porsi 29,83%. “Komoditas perhiasan ini tumbuh mencapai 216,88% secara kumulatif,” tutur Ateng.
