Rupiah Sempat Rp 18.000 Per Dolar, Kontraktor Mulai Keluhkan Harga Material
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai berdampak pada sektor konstruksi. Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengungkapkan para kontraktor telah menyampaikan keluhan terkait kenaikan harga sejumlah material bangunan.
Menurut Dody, kenaikan harga material terjadi di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya berbagai kebutuhan konstruksi.
"Oh iya, ada penyesuaian harga. Iyalah pastilah (kontraktor sudah mulai ngeluh), karena ya semuanya kan harga semua naik. Semen naik, aspal naik, besi naik, baja naik," kata Dody saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga
Menteri Maman Pastikan Pemerintah Lindungi UMKM dari Gejolak Rupiah
Dody menegaskan, Kementerian PU telah mengambil langkah awal dengan meminta arahan kepada Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) terkait mekanisme penyesuaian harga dalam proyek pemerintah. Selain itu, kata Menteri PU, pihaknya juga memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian Harga Perkiraan Sendiri (HPS).
"Saya juga punya diskresi untuk bisa menaikkan HPS itu, tapi tetap ada prosesnya, kan? Masih harus di-review BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan), kemudian ke APH (aparat penegak hukum). Jadi kita kerjakan itu saja kalau nggak ada arahan dari LKPP lebih lanjut," ujarnya.
Meski kontraktor mulai mengeluhkan kenaikan biaya, Dody memastikan pelaksanaan proyek-proyek pemerintah hingga saat ini masih berjalan normal dan belum terdampak secara signifikan.
"Sejauh ini sih nggak ada, masih berjalan biasa saja. Tapi itu kan nanti terakhir, di ujung setelah semua selesai baru mereka mengajukan tambah kurangnya berapa. Biasanya begitu," kata Dody.
Baca Juga
Sumarecon (SMRA) Ungkap Strategi Redam Efek Pelemahan Rupiah pada Bisnis Properti
Pada perdagangan Kamis (11/6/2026), rupiah sempat dibuka melemah 0,04% ke level Rp 17.952 per dolar AS. Hingga penutupan perdagangan, mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.988 per dolar AS atau melemah 44 poin (0,25%) dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah juga tercermin pada kenaikan harga material konstruksi yang menjadi komponen utama proyek pemerintah. Berdasarkan data Semen Indonesia Group (SIG), pada kuartal I/2026, harga semen 50 kilogram (kg) berada di kisaran Rp 68.000-Rp 110.000 per sak, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sekitar Rp 60.000-Rp 98.000.
Adapun harga besi beton ulir 12 mm juga naik menjadi Rp 112.000-Rp 125.000 per batang dari kisaran Rp 98.000-Rp 110.000 pada 2025. Sementara baja ringan C75 meningkat menjadi Rp 95.000-Rp 115.000 per batang dari kisaran Rp 75.000-Rp 85.000 di kuartal I/2025.
