Harga Emas Melemah 1% Saat Ketegangan Iran-AS Memanas, Investor Waspadai Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Rabu (3/6/2026) setelah pasar memperkirakan tekanan inflasi akibat konflik geopolitik dapat membuat suku bunga Amerika Serikat (AS) tetap tinggi lebih lama. Investor juga mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah dan menunggu serangkaian data ekonomi penting AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.
Harga emas spot turun hampir 1% menjadi US$ 4.440,27 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 1,1% ke level US$ 4.468,60 per ons.
Tekanan terhadap logam mulia terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Konflik kembali memanas setelah serangan Iran ke Kuwait merusak fasilitas bandara dan menyebabkan puluhan korban luka. Pada saat yang sama, militer AS melancarkan operasi di sekitar Selat Hormuz, sementara upaya diplomatik untuk meredakan konflik belum menunjukkan hasil signifikan.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan pergerakan harga emas saat ini masih sangat dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. "Aktivitas emas sebagian besar didorong oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran," kata Meger dilansir Reuters.
Menurut dia, eskalasi konflik berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang pada akhirnya meningkatkan ekspektasi inflasi global. "Seiring meningkatnya konflik, kenaikan harga energi diperkirakan akan meningkatkan ekspektasi inflasi. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan suku bunga, yang selanjutnya akan memperkuat dolar dan menambah tekanan penurunan pada harga emas," ujarnya.
Baca Juga
Harga Emas Turun Seusai Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Suku Bunga Tinggi
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, logam mulia cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada pada level tinggi karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen pendapatan tetap lainnya.
Pada saat yang sama, harga minyak dunia bergerak naik, sementara indeks dolar AS menguat untuk sesi ketiga berturut-turut. Penguatan mata uang AS membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga berpotensi menekan permintaan.
Pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams kembali menegaskan bahwa belum ada kebutuhan mendesak untuk mengubah kebijakan suku bunga jangka pendek.
Namun, pandangan berbeda datang dari Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack. Ia menyatakan bahwa bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila tekanan inflasi yang sudah tinggi terus meningkat.
Fokus Investor ke Data Tenaga Kerja
Selain perkembangan geopolitik dan komentar pejabat The Fed, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada laporan nonfarm payrolls atau data penyerapan tenaga kerja AS periode Mei yang dijadwalkan rilis pada Jumat (5/6/2026). Data tersebut penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi terbesar dunia sekaligus menjadi petunjuk bagi arah kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga
BPS Catat Emas Perhiasan Deflasi Tiga Bulan Berturut-turut hingga Mei 2026
Sebelumnya, laporan ketenagakerjaan nasional yang dirilis ADP menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta di AS bertambah lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar pada Mei. Hasil tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja masih cukup solid meski suku bunga berada pada level tinggi.
Kondisi itu berpotensi memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama guna memastikan inflasi kembali menuju target bank sentral. Bagi pasar emas, skenario tersebut menjadi faktor yang dapat membatasi potensi penguatan harga dalam jangka pendek.

