Pertamina Bidik Target 'Value Creation' Naik Jadi US$ 150 Juta Lewat Transformasi AI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina (Persero) memperkuat transformasi digital berbasis artificial intelligence (AI) untuk menciptakan nilai bisnis baru sekaligus meningkatkan efektivitas operasional perusahaan. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina membangun sistem operasi energi yang lebih efisien dan terukur di tengah percepatan digitalisasi industri energi global.
Dengan implementasi AI dan digital analytics, Pertamina menaikkan target value creation menjadi US$ 150 juta pada 2026.
Komitmen itu disampaikan Senior Vice President Pertamina Digital Hub Ignatius Sigit Pratopo saat menjadi pembicara dalam ajang IPA Convex 2026 yang berlangsung di BSD, Tangerang, Banten, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga
Pertamina EP dan PHR Sepakati Pasokan Gas 30 BBTUD untuk Blok Rokan
Sigit mengatakan Pertamina telah menyesuaikan arah transformasi digital perusahaan dengan menempatkan value creation atau penciptaan nilai bisnis sebagai fokus utama dalam rencana jangka panjang perusahaan (RJPP). Langkah tersebut menjadi fondasi implementasi AI yang lebih terukur dan berdampak langsung terhadap performa bisnis. “Dalam rencana tersebut, kami menetapkan target ambisius, yaitu memberikan dampak EBITDA sebesar US$ 300 juta pada 2027. Itulah yang menjadi visi kami,” ujar Sigit dikutip Senin (25/5/2026).
Untuk mendukung target tersebut, Pertamina mengembangkan program Digital Factory sebagai pendekatan transformasi digital end-to-end di seluruh lini bisnis perusahaan. Program itu mencakup identifikasi persoalan bisnis, pengembangan minimum viable product (MVP), implementasi solusi digital analytics, hingga perluasan implementasi setelah solusi dinilai berhasil.
Menurut Sigit, transformasi digital Pertamina dibangun melalui dukungan kuat dari level manajemen perusahaan. Hal tersebut diwujudkan melalui pembentukan fungsi khusus bernama Pertamina Digital Hub yang bertugas mengoordinasikan seluruh inisiatif digital analytics dan AI perusahaan serta melapor langsung kepada direktur utama.
“Pertamina membentuk fungsi khusus yang bertugas mengoordinasikan seluruh inisiatif digital analytics dan AI di perusahaan. Saat ini fungsi tersebut dikenal sebagai Pertamina Digital Hub dan melapor langsung kepada CEO. Hal itu mencerminkan komitmen kuat perusahaan,” jelasnya.
Sigit menegaskan implementasi AI di Pertamina tidak hanya fokus pada penggunaan teknologi, tetapi diarahkan untuk menjawab tantangan operasional yang dihadapi unit bisnis perusahaan. Melalui program Digital Factory, perusahaan melakukan pemetaan berbagai persoalan bisnis sebelum menentukan teknologi yang paling tepat, mulai AI, machine learning, analytics, hingga solusi digital lainnya.
“Setelah konsep disepakati bersama bisnis, tim khusus atau squad akan mengembangkan MVP dan menghadirkan solusi digital analytics maupun AI tersebut. Selanjutnya, bisnis akan mengimplementasikan MVP tersebut, dan ketika terbukti berhasil, kami melakukan scale-up. Pada tahap itulah kami mulai merealisasikan nilai bisnis yang nyata,” papar Sigit.
Implementasi AI dan digital analytics Pertamina mulai menunjukkan hasil dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, perusahaan mencatat value creation lebih US$ 35 juta. Sementara pada 2025, target ditingkatkan menjadi US$ 50 juta dengan realisasi hampir mencapai US$ 80 juta.
Memasuki 2026, Pertamina kembali menaikkan target value creation menjadi US$ 150 juta. Untuk memastikan pencapaian target tersebut, perusahaan mulai menerapkan indikator kinerja utama atau key performance indicator (KPI) di setiap unit bisnis. “Pada 2026, kami juga mulai menerapkan KPI bagi unit bisnis untuk memastikan realisasi value creation dapat terukur dengan jelas. Itulah perjalanan yang sedang kami jalani saat ini,” kata Sigit.
Baca Juga
Pertamina Trans Kontinental Raih Penghargaan CSR 2026 Berkat Program Maritim dan Pendidikan
Transformasi digital Pertamina juga diterapkan di seluruh rantai nilai energi perusahaan mulai sektor hulu, tengah, hingga hilir. Di sektor upstream atau hulu migas, Pertamina telah memanfaatkan machine learning dan AI melalui program ChanceX untuk meningkatkan rasio keberhasilan eksplorasi.
Sigit menyebut implementasi teknologi tersebut terbukti mampu meningkatkan rasio keberhasilan eksplorasi di salah satu basin hingga 10%. Selain eksplorasi, AI juga digunakan untuk mendukung drilling, optimasi produksi, reservoir management, dan berbagai operasi hulu lainnya. “Kami juga terus memperluas implementasi AI di berbagai operasi upstream, termasuk drilling, optimasi produksi, reservoir management, dan berbagai area lainnya,” tutup Sigit.

