Bagikan

Prabowo: Tiga Komoditas Strategis RI Hasilkan Devisa Rp 1.100 Triliun per Tahun

Poin Penting

Presiden Prabowo Subianto menyebut tiga komoditas strategis RI—minyak sawit, batu bara, dan ferro alloy—menghasilkan devisa sekitar US$65 miliar atau Rp1.100 triliun per tahun.
Devisa terbesar berasal dari ekspor batu bara sebesar US$30 miliar, disusul minyak sawit US$23 miliar dan ferro alloy US$16 miliar sepanjang 2025.
Prabowo menilai potensi SDA Indonesia sangat besar, namun rasio penerimaan negara terhadap PDB masih rendah, hanya sekitar 11–12%, terendah di antara negara G20.

JAKARTA, investortrust.id — Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan tiga komoditas strategis Indonesia mampu menghasilkan devisa hingga US$ 65 miliar atau setara Rp 1.100 triliun per tahun. Tiga komoditas tersebut adalah minyak kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy atau paduan besi.

Prabowo menyebut capaian itu menunjukkan Indonesia memiliki kekuatan ekonomi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Prabowo, Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya strategis dunia mulai dari batu bara, nikel, tembaga, minyak kelapa sawit hingga logam tanah jarang.

Untuk sektor minyak kelapa sawit, Indonesia disebut masih menjadi eksportir terbesar dunia dengan nilai devisa mencapai US$ 23 miliar atau sekitar Rp 391 triliun sepanjang 2025.

Sementara itu, ekspor batu bara Indonesia menghasilkan devisa mencapai US$ 30 miliar atau setara Rp 510 triliun pada periode yang sama. Sedangkan ekspor fero alloy menyumbang devisa sekitar US$ 16 miliar atau senilai Rp 272 triliun.

Baca Juga

Badan Tunggal Pengekspor SDA Dibentuk, Selamatkan Kekayaan Negara US$ 150 Miliar/Tahun

“Ketiga (komoditas) strategis ini menghasilkan devisa US$ 65 miliar atau setara Rp 1.100 triliun per tahun,” kata Prabowo saat penyampaian dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027 dalam Sidang Paripurna DPR di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).

Namun, Prabowo menyoroti lemahnya rasio penerimaan negara Indonesia dibandingkan negara lain, termasuk sesama negara berkembang.

Menurut dia, sebagai anggota G20, Indonesia justru memiliki rasio penerimaan negara terhadap produk domestik bruto (PDB) yang tergolong rendah.

“Rasio penerimaan kita paling rendah di antara negara G20 dari data terbaru IMF. Kita bisa melihat rasio pendapatan Meksiko 25% dari PDB, India 20% dari PDB, Filipina 21% dari PDB, Kamboja saja 15% dari PDB, Indonesia 11-12% dari PDB,” tutur Prabowo.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024