Penyaluran Solar Subsidi Minus 50 Ribu KL, Pertalite Masih Aman
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar mulai mengalami defisit terhadap kuota nasional 2026. Sementara itu, penyaluran Pertalite dan minyak tanah masih berada dalam kondisi aman.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengungkapkan, hingga pertengahan Mei 2026 realisasi penyaluran jenis BBM tertentu (JBT) minyak solar tercatat telah melampaui kuota berjalan.
“Khusus untuk minyak solar yang menjadi perhatian memang kita sejak 1 April ini mengalami minus, dan ini secara kumulatif kita minus 50.090 kiloliter (KL),” ujar Wahyudi Anas dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga
Stok Solar Shell Kembali Tersedia, Harga V-Power Diesel Melonjak Jadi Segini
Berdasarkan data BPH Migas, kuota solar subsidi 2026 ditetapkan sebesar 18,64 juta KL. Adapun kuota hingga 137 hari pertama tahun ini sebesar 6,99 juta KL, sementara realisasi penyaluran sudah mencapai 7,05 juta KL atau 37,8% dari total kuota tahunan.
Sebaliknya, untuk minyak tanah subsidi, penyaluran masih berada di bawah kuota. Dari kuota tahunan sebesar 526 ribu KL, realisasi hingga pertengahan Mei mencapai 195.144 KL atau masih surplus sekitar 2.286 KL dibandingkan kuota berjalan. “Terkait dengan penyaluran BBM subsidi dan kompensasi negara, ada tiga jenis. Untuk JBT minyak tanah alhamdulillah kita masih surplus kuotanya,” kata Wahyudi.
Sementara itu, untuk jenis bahan bakar khusus penugasan (JBKP) Pertalite, BPH Migas memastikan kondisi pasokan dan penyaluran masih relatif aman. Dari total kuota Pertalite 2026 sebesar 29,27 juta KL, realisasi penyaluran hingga 17 Mei 2026 tercatat sebesar 10,46 juta KL atau sekitar 35,74% dari kuota tahunan. Angka tersebut masih menyisakan surplus sekitar 525.646 KL dibandingkan kuota berjalan.
“Untuk JBKP Pertalite alhamdulillah sangat aman, kita surplus 525.646 KL. Ini penting dan itu kita cermati bersama,” ucap dia.
Baca Juga
Naik Kelas Jadi SPBU Signature, 13 SPBU Pertamina Ini Tak Lagi Jual Pertalite
BPH Migas menyebut realisasi Januari-Maret 2026 telah berstatus verified, sementara data periode 1 April hingga 17 Mei 2026 masih bersifat unverified dan berpotensi mengalami penyesuaian.
Kondisi defisit penyaluran solar subsidi menjadi perhatian pemerintah mengingat tingginya konsumsi sektor transportasi dan industri, di tengah upaya menjaga ketepatan sasaran distribusi BBM subsidi sepanjang tahun ini.

