Beras Kualitas Bawah Naik, Daging Ayam dan Telur Turun Tajam
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga sejumlah komoditas pangan strategis di Indonesia menunjukkan pergerakan yang beragam, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) per Jumat, (8/5/2026), Beras kualitas bawah I mengalami kenaikan tertinggi.
Mengacu data PIHPSN, komoditas beras memang memperlihatkan dinamika yang berbeda antar kualitas. Beras kualitas bawah I menjadi produk pangan yang mengalami kenaikan tertinggi berdasarkan catatan hari ini, yang naik 3,45 % atau Rp500 menjadi Rp15.000 per kilogram, sementara kualitas bawah II juga meningkat 2,41% atau Rp350 menjadi Rp14.850 per kilogram.
Beras kualitas medium I justru turun 0,93 % atau Rp150 menjadi Rp15.950 per kilogram, sedangkan kualitas medium II naik 0,94 % atau Rp150 menjadi Rp16.150 per kilogram. Untuk beras kualitas super, harga menunjukkan tren penurunan. Super I turun 2,01 % atau Rp350 menjadi Rp17.050 per kilogram, dan Super II turun 1,18 % atau Rp200 menjadi Rp16.700 per kilogram.
Berikutnya produk pangan yang mengalami kenaikan tertinggi adalah cabai merah keriting melonjak lebih tinggi sebesar 2,55% atau Rp1.200 menjadi Rp48.250 per kilogram. Berikutnya cabai rawit merah naik 0,92 % atau Rp550 menjadi Rp60.200 per kilogram.
Cabai merah besar naik 1,21% atau Rp600 menjadi Rp50.000 per kilogram, sementara Cabai rawit hijau mengalami koreksi cukup tajam, turun 9,67% atau Rp4.700 sehingga berada di harga Rp43.900 per kilogram.
Berikutnya tercatat harga bawang merah ukuran sedang tercatat naik tipis sebesar 0,88% atau Rp400 menjadi Rp46.050 per kilogram. Sebaliknya, bawang putih ukuran sedang mengalami penurunan 0,39% atau Rp150 sehingga berada di level Rp38.750 per kilogram.
Penurunan harga cukup signifikan terjadi pada daging ayam ras segar yang turun sebesar 8,12 % atau Rp3.150 sehingga berada di harga Rp35.650 per kilogram. Sebaliknya, daging sapi justru mencatat kenaikan. Daging sapi kualitas 1 naik 0,68 % atau Rp1.000 menjadi Rp148.750 per kilogram, sementara daging sapi kualitas 2 meningkat lebih tinggi sebesar 2,15 % atau Rp3.000 menjadi Rp142.550 per kilogram.
Komoditas gula memperlihatkan tren yang berbeda. Gula pasir kualitas premium naik tipis 0,74 % atau Rp150 menjadi Rp20.300 per kilogram, sedangkan gula pasir lokal turun 0,26% atau Rp50 sehingga berada di harga Rp19.150 per kilogram.
Minyak goreng juga menunjukkan variasi harga. Minyak goreng curah turun 0,24 % atau Rp50 menjadi Rp20.500 per kilogram, minyak goreng kemasan bermerek 1 tetap stabil di Rp23.750 per kilogram, sementara minyak goreng kemasan bermerek 2 naik 2,19 % atau Rp500 menjadi Rp23.350 per kilogram.
Baca Juga
Telur ayam ras segar mengalami penurunan cukup tajam sebesar 5,25 % atau Rp1.650 sehingga kini berada di harga Rp29.800 per kilogram.
Terkait kenaikan harga, kenaikan biaya kemasan plastik menjadi salah satu faktor utama penyebab kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan bahwa kenaikan harga minyak goreng domestik sulit dihindari karena terjadi lonjakan harga kemasan plastik.
Esther menjelaskan, lonjakan harga kemasan plastik berasal dari hulu akibat tekanan dari ketidakstabilan geopolitik serta gangguan pada rantai distribusi. Ia meyakini bahwa lonjakan harga kemasan plastik akan mendorong pelaku industri nasional untuk mencari alternatif kemasan yang lebih efisien sebagai solusi jangka panjang.
"Hal ini juga memicu penggunaan kemasan yang lebih efisien karena naiknya biaya plastik," katanya di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Lebih lanjut, ia mengingatkan pemerintah agar mengambil langkah penanganan yang tepat mengingat kenaikan harga minyak goreng berpotensi untuk memicu inflasi, meningkatkan biaya hidup rumah tangga, serta membebani UMKM kuliner akibat kenaikan biaya produksi. Esther menambahkan bahwa secara makro, kenaikan harga minyak goreng bisa mendorong inflasi, menurunkan tingkat konsumsi masyarakat, serta menahan laju pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.
"Beban pengeluaran harian masyarakat berpotensi akan meningkat karena minyak goreng merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda," tegasnya.

