Investasi US$ 100 Juta, Trina Mas Agra Dukung Ambisi Pembangkit Surya di Indonesia
JAKARTA, Investortrust.id - PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), perusahaan perintis pembuatan modul PV surya terintegrasi di Indonesia memperkuat posisi Indonesia dalam mengejar target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) dengan menghadirkan fasilitas manufaktur panel surya terintegrasi terbesar di dalam negeri. Kehadiran fasilitas ini untuk menjaga pasokan energi bersih nasional di tengah meningkatnya kebutuhan listrik hijau akibat percepatan transisi energi, pertumbuhan kendaraan listrik (EV), dan ekspansi industri rendah karbon.
Pemerintah menargetkan pengembangan PLTS sebagai salah satu pilar ketahanan energi nasional. Di tengah dinamika global yang kerap memicu gangguan distribusi logistik dan pembatasan ekspor-impor komponen strategis, keberadaan manufaktur panel surya domestik menjadi instrumen penting untuk memastikan proyek energi bersih berjalan sesuai rencana.
“Kami mendukung penuh target 100 GW PLTS sebagai pendorong utama industrialisasi hijau nasional,” ujar Wakil Direktur Utama PT Trina Mas Agra Indonesia Lokita Prasetya dikutip Jumat (1/5/2026).
TMAI mengoperasikan pabrik panel surya terintegrasi pertama di Indonesia yang terdiri atas fasilitas produksi solar cell berkapasitas 1 gigawatt menggunakan teknologi TOPCon dan pabrik solar module berkapasitas 1 gigawatt. Panel yang diproduksi memiliki daya hingga 720 watt peak dengan efisiensi mencapai 23,3%. Kapasitas ini dinilai mampu menopang lonjakan kebutuhan panel surya nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor komponen inti.
Baca Juga
Lautan Luas (LTLS) Pasang 171 Panel Surya untuk Kurangi Emisi Setara Serapan 3.648 Pohon
Melalui investasi lebih dari US$ 100 juta, TMAI membangun fasilitas manufaktur yang tidak hanya melakukan perakitan, tetapi juga memproduksi sel surya secara domestik. Langkah ini menandai penguatan hilirisasi industri energi nasional. Indonesia mulai menguasai teknologi inti melalui penerapan N-type i-TOPCon Advanced yang selama ini didominasi produsen global.
"Kehadiran pabrik terintegrasi TMAI di Kendal merupakan langkah nyata agar nilai tambah ekonomi dari transisi energi ini sepenuhnya dibuat dan dinikmati di dalam negeri," kata dia.
Ia menegaskan penguasaan teknologi sel surya dari hulu akan memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok energi hijau global. "Fasilitas dengan tingkat TKDN hingga 60% menjadi fondasi bagi industri panel surya nasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi," kata dia.
Pangkas Ketergantungan Impor
Penguatan industri hulu panel surya di dalam negeri dinilai menjadi kunci untuk menciptakan skala ekonomi yang kompetitif. Produksi dalam kapasitas besar memungkinkan Indonesia menekan ketergantungan pada rantai pasok global sekaligus meredam fluktuasi harga komponen impor yang kerap memengaruhi biaya proyek energi terbarukan.
Lokita menyebut manufaktur lokal juga memangkas rantai logistik sehingga distribusi komponen menjadi lebih cepat. “Selain aspek ekonomi, manufaktur lokal berperan vital dalam memperpendek rantai logistik sehingga distribusi komponen menjadi lebih cepat dan responsif,” katanya.
Baca Juga
Pemerintah Rencanakan Tambahan Panel Surya 100 GW Bisa Jadi Senjata Baru bagi Para Nelayan
Dengan distribusi domestik yang lebih singkat, pasokan panel surya dapat menjangkau proyek-proyek di wilayah terpencil secara lebih efisien. Hal ini sejalan dengan agenda pemerintah memperluas pembangunan PLTS hingga daerah pelosok agar akses energi bersih dapat dinikmati lebih merata.
TMAI beroperasi melalui kolaborasi antara PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, Trina Solar Co, dan PT PLN Indonesia Power Renewables. Kemitraan ini memperlihatkan model sinergi antara swasta nasional, pemain global, dan badan usaha milik negara dalam membangun ekosistem industri hijau yang terintegrasi.

