Harga Emas Melemah Saat Dolar Menguat dan Minyak Tembus US$ 100
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia turun pada Kamis (23/4/2026) seiring penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi, di tengah ketidakpastian arah konflik setelah pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terhenti.
Harga emas turun 0,6% menjadi US$ 4.706,49 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS pengiriman Juni melemah 0,6% ke level US$ 4.727. Pelemahan ini terjadi saat dolar menguat tipis dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan.
Baca Juga
Harga Emas Turun Saat Dolar Menguat, Pasar Tunggu Sinyal AS-Iran
Penguatan dolar membuat emas yang dihargakan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor global. Pada saat yang sama, kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan biaya peluang memegang emas, karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan pergerakan emas saat ini sangat dipengaruhi dinamika energi. “Harga emas terus mengikuti pergerakan pasar minyak, dengan kenaikan biaya energi yang membuat risiko penguatan dolar dalam jangka pendek dan inflasi yang tinggi tetap menjadi fokus,” ujarnya dikutip CNBC.
Tekanan tambahan datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz. Iran dilaporkan menyita dua kapal di jalur pelayaran strategis tersebut, setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan tanpa batas waktu. Kondisi ini terjadi tanpa adanya tanda bahwa pembicaraan damai akan segera dilanjutkan.
Pemerintah Iran juga menuduh Washington melanggar gencatan senjata dengan tetap mempertahankan blokade terhadap perdagangan laut Iran. Ketegangan ini mendorong harga minyak mentah jenis Brent melonjak di atas US$ 100 per barel.
Lonjakan harga energi berpotensi memperkuat tekanan inflasi global. Dalam kondisi tersebut, suku bunga cenderung bertahan tinggi lebih lama. Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru mengurangi daya tariknya.
Baca Juga
Imbas Kenaikan Harga Energi Dunia, Biaya Kemasan Plastik Picu Lonjakan Harga Minyak Goreng
Survei Reuters terhadap ekonom menunjukkan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), kemungkinan akan menunda pemangkasan suku bunga setidaknya enam bulan ke depan akibat lonjakan inflasi yang dipicu gangguan energi.
Hansen menilai pelemahan emas saat ini masih bersifat sementara. Ia menyebut konsolidasi harga lebih mencerminkan jeda akibat ketidakpastian suku bunga, bukan perubahan tren jangka panjang. “Kami tetap berpendapat bahwa emas kemungkinan akan mencapai rekor tertinggi baru pada akhir tahun ini atau awal 2027,” tambahnya.

