Harga Emas Turun Tipis, Investor Soroti Ketegangan AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas Rabu (16/4/2026) sedikit turun setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam satu bulan, seiring investor mencermati perkembangan terbaru hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta implikasinya terhadap arah suku bunga global.
Pelaku pasar menilai ulang sentimen geopolitik dan kebijakan moneter. Pergerakan ini menjadi penting karena menunjukkan pergeseran fokus investor dari fungsi emas sebagai aset lindung nilai menuju ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
Harga emas spot turun 0,9% menjadi US$ 4.796,56 per ons pada perdagangan awal, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 18 Maret dalam sesi yang sama. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga turun 0,6% menjadi US$ 4.820,50.
Baca Juga
Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan penurunan ini masih tergolong wajar setelah reli sebelumnya. “Emas dan perak hanya mengalami aksi ambil untung ringan dan rutin setelah mencapai level tertinggi semalam,” ujar dia dikutip CNBC.
Ia menambahkan bahwa pergerakan harga emas saat ini tidak sepenuhnya mengikuti pola tradisional sebagai aset safe haven. Menurut dia, dalam beberapa sesi terakhir, emas justru menguat saat selera risiko meningkat dan melemah saat pasar cenderung menghindari risiko.
Wyckoff menilai fokus pasar kini bergeser ke arah kebijakan moneter yang lebih ketat dan tekanan inflasi. Kondisi ini membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai menjadi berkurang, terutama ketika suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi geopolitik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri konflik berpotensi segera dilanjutkan dan dapat menghasilkan kesepakatan. Ia juga meminta dunia bersiap menghadapi “dua hari yang menakjubkan”, di tengah ketegangan yang masih berlangsung.
Ketidakpastian masih membayangi pasar energi global. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tetap terbatas meskipun telah terjadi gencatan senjata selama dua minggu. Sekitar 45 hari setelah Garda Revolusi Iran menyatakan jalur tersebut tertutup, arus logistik energi dunia masih terganggu.
Kondisi ini mendorong harga minyak naik dan berpotensi memperpanjang tekanan inflasi global. Dampaknya, bank sentral utama, seperti Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Baca Juga
Perkuat UMKM Perempuan, Wapres Gibran Janjikan Fasilitas Pemasaran Inklusif
Presiden Federal Reserve Chicago Austin Goolsbee mengatakan bank sentral AS kemungkinan baru dapat memangkas suku bunga pada 2027 jika harga minyak tetap tinggi akibat konflik Iran. Situasi ini dinilai dapat menghambat upaya menurunkan inflasi menuju target 2%.
Saat ini, pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga AS tahun ini hanya sekitar 31%. Ekspektasi tersebut menjadi faktor utama yang menekan harga emas dalam jangka pendek.

