Tren Ekspor Batubara Diprediksi Melemah Seiring Penerapan EBT
JAKARTA, Investortrust.id - Direktur Jenderal Pengembangan Kementerian Dalam Negeri (Kemendag) Republik Indonesia (RI), Didi Sumedi memperkirakan tren ekspor batu bara ke depannya kurang bergairah seiring mulai banyaknya negara-negara yang menerapkan energi baru dan terbarukan (EBT).
“Ke depan memang secara tren kelihatannya memang menurun (batu bara), karena energi hijau sudah semakin dipromosikan, dan beberapa aturan internasional seperti kemarin di COP 26 & 28 yang terkait masalah energi sudah mulai disuarakan terus,” ujarnya, seperti dikutip, Sabtu (30/12/2023).
Tidak bisa dimungkiri, lanjut Didi, saat ini batu bara masih menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi besar terhadap ekspor nasional Indonesia, meski harganya sangat fluktuatif.
Baca Juga
Trade Expo Indonesia Cetak Transaksi Rp 473 Triliun, Batu Bara Penyumbang Terbesar
Ia mencontohkan, pada bulan Mei-Juni 2022 misalnya, harga batu bara berada di level tertinggi dengan nilai US$ 400 per ton. Berbeda dengan harga saat ini yang berkisar di angka US$ 130 per ton. Lebih parah lagi ketika tahun 2019, harga per ton nya hanya US$ 40.
“Ke depan memang trennya adalah energi baru terbarukan atau energi hijau yang akan muncul, tapi saya masih punya keyakinan bahwa tidak semua negara sudah beralih ke sana,” kata Didi.
Seperti India misalkan, kebutuhan penggunaannya masih cukup besar. Tak terkecuali Tiongkok yang meski penggunaan energinya sudah beralih ke alternatif lain namun belum bisa meninggalkan penggunaan batu bara sepenuhnya.
Baca Juga
Pengusaha Optimistis Harga Batu Bara Naik 10-20% Tahun Depan, Ini Penyebabnya
“Ada sedikit harapan. Tapi memang kita harus mempersiapkan diri untuk terus beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT). Itu tidak bisa dipungkiri, gerakan nasional sudah mengarah ke sana. Jadi kalau kita tidak move on, saya kira susah juga ke depannya,” pungkas Didi. (CR-13)
