Teman Investor! Ini Jajaran Saham Infrastruktur yang Masih Undervalued
JAKARTA, investortrust.id – Saham sektor infrastruktur diprediksi masih berpeluang menguat hingga akhir 2023 bahkan 2024. Fokus pemerintah membangun infrastruktur merupakan katalis utama terhadap saham-saham sektor ini.
Diketahui, pemerintah menganggarkan dana pembangunan infrastruktur sebesar Rp 399,6 triliun tahun 2023. Jumlahnya naik 5,8% menjadi Rp 422,7 triliun tahun 2024, seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Alokasi dana infrastruktur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2024 merupakan yang terbesar dalam masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta menilai, tingginya alokasi dana infrastruktur merupakan angin segar yang esensial bagi saham infrastruktur.
Baca Juga
Top 10 Broker, Nikko Sekuritas Dominasi Transaksi Saham Sepekan
Sebab kata dia, akan banyak proyek-proyek baru yang bisa berdampak positif pada kinerja emiten infrastruktur.
’’Tidak hanya emiten yang mendapat proyek langsung dari pemerintah yang cuan, emiten infrastruktur lain bisa mendapat berkah sebagai sub kontraktor,’’ papar Nafan saat dihubungi investortust.id belum lama ini.
Selain katalis pembangunan, Nafan melihat momen pemilihan umum (Pemilu) juga akan membawa katalis positif bagi sektor ini. ‘’Biasanya, saat kampanye Pemilu calon presiden mengusung pembangunan infrastruktur sebagai program utama, sehingga mendatangkan sentimen kuat bagi saham sektor ini,’’ imbuhnya.
Untuk itu Nafan optimistis sektor infrastruktur akan leading penguatan pasar saham hingga akhir tahun bahkan 2024. Kendati begitu, Nafan mengingatkan, tidak semua saham infrastruktur layak akumulasi.
Baca Juga
Bos Garuda Buka-bukaan soal Rencana Merger Citilink dengan Pelita Air
Faktor fundamental tetap harus menjadi perhatian pemodal, tentunya selain valuasi harga saham. Sebab kata dia sejumlah saham infratsruktur sudah relatif mahal, meski sebagian besar masih undervalued.
Untuk memberikan gambaran pada pemodal terkait kondisi valuasi saham-saham sektor infrastruktur, Tim Litbang Investortrust telah menyaring sejumlah saham yang masih tergolong undervalued dan yang sudah overvalued.
Data yang tersaji mengacu pada posisi harga saham di penutupan perdagangan pasar saham, Jumat (10/11/2023). Adapun pengukurannya dilakukan berdasarkan posisi price earning ratio (PER) maupun price to book value (PBV) masing-masing saham dibanding saham lainnya pada sektor tersebut.
Pada jajaran saham yang masih undervalued terdapat saham PT Leyand International Tbk (LAPD) dengan PER 0,42 kali dan PBV 4.00 kali, pilihan kedua saham PT Bukaka Teknik Utama Tbk dengan PER 4,59 kali dan PBV 0,70 kali serta saham PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) dengan PER 4,76 kali dan PBV di angka 0,35 kali.
Sedangkan saham yang perlu dihindari salah satunya saham PT Solusi Tunas Partama Tbk (SUPR) dengan PER di atas 47 kali, PBV 7,23 kali. Kemudian Saham PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) dengan PER 34,02 kali dan PVB 4,67 kali. Selain itu saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dengan PER 30,98 kali dan PBV 4,16 kali terbilang sudah mahal.
