Kenaikan Penjualan Ritel AS Bikin Pusing The Fed
JAKARTA, Investortrust.id - Kenaikan penjualan ritel di Amerika Serikat sebesar 0,7% pada September 2023 month on month, demikian data terbaru dari Departemen Perdagangan AS yang dirilis Selasa (17/10/2023) waktu setempat. Angka tersebut tercatat sebagai kenaikan lebih dari dua kali lipat dari yang diperkiraan Wall Street. Sebelumnya kalangan pelaku pasar di bursa Wall Street memperkirakan penjualan ritel hanya akan bertumbuh sebesar 0,3%.
Penjualan ritel telah tumbuh dari bulan sebelumnya selama enam bulan berturut-turut, menandai tren konsisten dalam pengeluaran konsumen.
Menurut para ekonom yang dilansir Yahoofinance, Rabu (18/10/2023), peningkatan didukung oleh rata-rata serapan tenaga kerja di luar pertanian sekitar 270.000 orang selama periode yang sama.
Baca Juga
Lapangan Kerja AS Menguat, Signal Suku Bunga The Fed Tetap Tinggi
Minimnya tanda-tanda penurunan pasar tenaga kerja, dan posisi daya beli konsumen yang menguat di AS berlanjut memasuki kuartal keempat tahun 2023. Situasi ini dinilai berisiko terhadap angka inflasi yang sudah menunjukkan tanda-tanda kenaikan. Kenaikan inflasi tentu diartikan bakal diikuti oleh kebijakan moneter yang ketat oleh The Fed dengan menaikkan tingkat suku bunga.
"Ekonomi memasuki periode kuartal IV memiliki lebih banyak momentum dibanding yang kami prediksi sebelumnya," kata ekonom utama AS Oxford Economics, Michael Pearce, Selasa (17/10/2023). "Risiko-risiko kontraksi konsumsi ringan yang diprediksi terjadi di kuartal IV (ternyata) jelas ke arah positif (penguatan). Penguatan ekonomi ini bisa diartikan pejabat The Fed akan terbuka untuk menaikkan suku bunga."
Gubernur Bank Sentral AS The Fed, Jerome Powell telah mencatat sebelumnya bahwa ekonomi AS yang lebih kuat bisa berarti lebih banyak fase kenaikan suku bunga , demi memastikan terjadinya penurunan harga.
Baca Juga
"Ekonomi yang menguat tentu baik... Tapi jika ekonomi bertumbuh lebih kuat dari yang diprediksikan, itu artinya kami harus melakukan lebih banyak kebijakan moneter untuk (mendorong) kembali (inflasi) ke 2%, karena kami akan kembali (membuat inflasi) ke 2%," kata Powell beberapa waktu lalu.
Selama beberapa pekan terakhir, para pejabat the Fed berusaha meredakan kekhawatiran pasar soal potensi kenaikan suku bunga berikutnya. Mereka menjelaskan bahwa pengetatan kucuran kredit bisa terjadi saat naiknya imbal hasil obligasi, dan hal itu memiliki efek yang sama dengan kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Fed.
Penjelasan ini memberikan rasa lega para pelaku pasar soal tingginya yield obligasi AS bertenor 10 tahun, dan sempat menyebabkan harga saham bergerak naik.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-tahun Sentuh 4,8%, Tertinggi dalam 16 Tahun. Bagaimana The Fed?
Namun, situasi berubah pada hari Selasa (17/10/2023) menyusul dilansirnya laporan penjualan ritel bulan September. Hingga Selasa sore, pelaku pasar lewat perangkat CME FedWatch memperkirakan Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan Desember dengan porsi kenaikan 25%. Saham-saham juga dibuka lebih rendah setelah laporan tersebut, sementara imbal hasil atau yield obligasi kembali meningkat. Imbal hasil obligasi 10 tahun melampaui angka 4,85%, mencapai level tertinggi dalam sepekan, hampir mencapai level tertinggi dalam 16 tahun.
“Laporan positif hari ini bersamaan dengan serangkaian kejutan ekonomi baru-baru ini yang menunjukkan bahwa perekonomian memiliki lebih banyak momentum daripada yang sebelumnya diprediksi selama musim panas," kata ekonom senior EY-Parthenon, Lydia Boussour, dalam risetnya yang dilansir Selasa (17/10/2023).
"Ini akan membuat The Fed tetap waspada terhadap inflasi yang tinggi, dan meskipun ini tidak akan membuat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee) melakukan kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan November, namun pada pertemuan bulan Desember kemungkinan besar akan membahas hal ini secara aktif (kenaikan suku bunga, red),” kata Boussour.
