Sudah Bangkitkah Pasar Mobil Indonesia?
TANGERANG, investrotrust.id - Indonesia Convention Exhibition (ICE) di Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang, Banten, menjadi lautan manusia pada akhir pekan ini. Ada pasangan muda, ada pula yang membawa keluarga besarnya.
Orang-orang berlalu-lalang di area seluas lebih dari 120.000 meter persegi itu. Para pengunjung ingin melihat perkembangan teknologi terbaru dari kendaraan impiannya.
Sepuluh aula plus satu aula tambahan, di area parkir ICE BSD, penuh pengunjung menonton produk otomotif dan turunannya. Pabrikan mobil, ban, cat, pengharum mobil, hingga mainan mobil-mobilan turut serta dalam ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024.
Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor Anton Jimmi Suwandy mengatakan terkesima dengan para pengunjung yang mendatangi GIIAS 2024. Sejak digelar pada 18 Juli 2024, dia mengamati pengunjung ramai berdatangan. Pameran akbar otomotif ini berlangsung hingga 28 Juli 2024,
“Tidak hanya di weekend, di hari biasa juga parkirannya penuh. Di semua booth ramai,” kata Jimmi di booth Toyota, ICE BSD, Sabtu (27/7/2024).
Baca Juga
GIIAS 2024 Berakhir, Gaikindo Sebut Pamor Mobil Hybrid Meningkat
Animo masyarakat terhadap produk-produk besutan Toyota terlihat dari tingginya ketertarikan untuk mengetes maupun melakukan pemesanan mobil merek Jepang ini. Dia mengatakan, menurut data, terjadi kenaikan jumlah pengunjung yang ingin melakukan tes mobil.
Selama GIIAS 2024 berlangsung, pengunjung yang mengajukan diri untuk test drive meningkat 20%. “Test drive tahun ini meningkat,” tandas dia.
Selama delapan hari GIIAS 2024, Toyota juga mencatat terjadi kenaikan pemesanan unit kendaraan. Dia mengatakan, terdapat 4.245 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) selama periode tersebut.
“Di GIIAS ini mengalami kenaikan SPK. Sampai delapan hari naik 11% dibanding tahun lalu,” kata dia.
Anton mengatakan dua model yang banyak dipesan yaitu Innova dan Avanza Veloz. Dia mengatakan, sebanyak 981 SPK untuk Innova telah dipesan konsumen dan 929 SPK untuk Avanza Veloz.
“Kalau di-compare saja hampir setengah SPK kita di GIIAS,” kata dia.
Sementara itu, kata Anton, satu kendaraan yang turut dipamerkan Rangga langsung diserbu peminat.Dia berharap pameran seperti GIIAS 2024 dapat mendorong penjualan kendaraan bermotor hingga akhir tahun ini.
“Rangga, sampai hari ini (Sabtu, 27 Juli 2024), ada 450 pre-booking,” kata dia.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi juga mengamini kenaikan jumlah pengunjung. Ia mengatakan pengunjung terlihat semakin meningkat dari hari pertama pembukaan.
“Data belum selesai kami rekam, karena ini kan masih perlu penutupan. Penutupannya besok (Minggu). Pengunjung yang datang naik, kira-kira sekitar 2%-5%” kata Yohannes, di ICE BSD.
Di Tengah Pelemahan daya Beli
Sementara itu, data penjualan mobil secara wholesale semester-I 2024 yang dikeluarkan Gaikindo menunjukkan kontraksi penjualan di sektor otomotif domestik. Selama Januari-Juni 2024 tercatat penjualan mobil sebesar 408.012 unit. Angka ini anjlok 19,4% dari penjualan periode yang sama 2023, yang tercatat sebesar 506.427 unit.
Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, ada indikasi pelemahan daya beli masyarakat. Hal ini mulai terlihat dari menurunnya tingkat konsumsi masyarakat, dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pun menunjukkan pelemahan sejak Mei 2024 yang sebesar 125,2, menjadi 123,3 pada Juni 2024.
“Penurunan ini terutama disebabkan oleh memburuknya persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja. Ini berdampak signifikan pada indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi,” kata Yusuf kepada investortrust.id.
Yusuf mengatakan, kesenjangan keyakinan konsumen antarkelompok pengeluaran masyarakat semakin melebar sejak 2022. Kondisi ini menunjukkan potensi ketimpangan dalam pemulihan ekonomi yang dapat memperlemah daya beli secara keseluruhan.
Ia menilai indikator pelemahan daya beli menjadi salah satu alasan utama melambatnya kinerja penjualan mobil terutama di semester-I 2024. “Apalagi, setelah bulan Ramadan dan Idulfitri, tidak ada lagi momentum yang bisa mendorong kelompok konsumen untuk melakukan konsumsi, terutama untuk produk tersier seperti mobil,” kata dia.
Baca Juga
Kontribusi ke Manufaktur Besar, Pemerintah Kaji Insentif Pajak Mobil
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan penurunan penjualan mobil ini menandai potensi terjadinya kelesuan penjualan hingga akhir 2024. Potensi ini dapat semakin menguat, kata Yannes, jika kondisi ekonomi global tidak membaik secara signifikan.
“Potensi penurunan akan terjadi bila daya beli masyarakat middle income class Indonesia juga tetap rendah. Pelemahan daya beli kelas menengah memengaruhi pembelian mobil di kelas harga Rp 150 juta-500 juta,” kata Yannes saat dihubungi investortrust.id, Sabtu (27/7/2024).
Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi, inflasi yang cukup tinggi, dan kenaikan suku bunga acuan telah mengurangi daya beli masyarakat. Dia menyebut middle income class yang berada dalam tekanan yang menguat cenderung semakin berhati-hati.
“Cenderung menunda pembelian produk tersier berharga mahal dan memilih opsi yang lebih hemat, akibat tekanan ekonomi yang mereka alami. Sehingga, baik pelemahan daya beli maupun kehati-hatian middle income class berkontribusi pada penurunan penjualan mobil baru pada semester I, bahkan semester II-2024 ini,” kata dia.
Anton mengakui terjadinya penurunan penjualan secara nasional. Bahkan, kata dia, Toyota mengalami penurunan penjualan secara wholesale sebesar 19% dan secara retail terkontraksi 10,3%.
“Toyota juga mengalami penurunan (secara retail) 10%. Tapi, kami bersyukur market share kami naik 1,4% dibanding tahun lalu menjadi 32,6%. dan retailnya terjual 140.608 unit,” kata Anton.
Anton juga melihat terjadinya pergeseran konsumen kelas menengah Indonesia. Untuk kelas mobil, dia menyebut terjadi tekanan pada unit mobil dengan segmen Rp 300 jutaan.
“Jadi cukup banyak kami melihat indikasi konsumen-konsumen di bawah Rp 300 juta itu yang akhirnya memilih untuk membeli mobil bekas. Karena masalah mungkin income, kemudian dibandingkan dengan inflasi dan lain sebagainya, ini juga masih akhirnya membuat mereka memilih pilihan-pilihan yang lain,” ujar dia.
Masih Optimistis Penjualan Mobil 1 Juta
Melihat tren data pembelian unit Toyota, Anton tetap optimistis penjualan keseluruhan mobil di Indonesia masih bisa mencapai angka yang ditargetkan 1 juta unit. Meski begitu, target itu harus disokong oleh pemerintah melalui pemberian insentif.
“Jadi, saya rasa yang perlu didukung terutama untuk konsumen-konsumen di bawah Rp 300 juta dan pembeli mobil pertama khususnya. Orang yang punya mobil baru ini saya rasa perlu didukung,” kata dia.
Sebagai penguasa pasar penjualan mobil wholesale dan retail, Anton mengatakan, Toyota telah menghitung insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) beberapa waktu lalu dapat mendorong penjualan di sektor otomotif. Dia mengatakan pemberian insentif ini tidak akan merugikan pemerintah.
“Kita hitung-hitungan kasar, pemerintah sebenarnya nggak rugi secara total. Karena kan dana yang dikeluarkan itu kembali lagi dalam bentuk market yang lebih besar. Berarti kan pajak yang lebih tinggi, kemudian ekonomi yang lebih berjalan,” ujar dia.
Selain mendorong pemerintah memberikan insentif, Anton juga menyebut pemberian kredit dapat meningkatkan pembelian kendaraan otomotif. Toyota mendapat sokongan dari Astra Financial, kata dia, untuk meringankan biaya kredit. Selain itu, Toyota menyediakan down payment (DP) yang ringan selama di GIIAS 2024.
“Jadi itu yang membantu juga masyarakat untuk membeli. Jadi program-program atau aktivitas yang kami lakukan di GIIAS ini cukup memberikan hasil,” ujar dia.
Ekonom CORE juga menilai, pemberian insentif dapat menjadi pendorong penjualan mobil. “Apakah tren perlambatan penjualan mobil ini akan bertahan sampai dengan akhir tahun, akan sangat tergantung antara lain dari pemberian insentif baik untuk produsen maupun konsumen di semester dua ini,” ucap Yusuf.
Meski demikian, Yusuf menyebut insentif dari pemerintah juga tidak bisa diberikan secara besar dan banyak, dalam arti jangka waktu maupun nilai insentif atau potongan pajaknya. Hal ini karena penerimaan negara pada APBN juga tengah 'seret' setidaknya sampai dengan semester I.
“Selain insentif, mejaga iklim perekonomian misalnya inflasi merupakan hal lain yang juga perlu diperhatikan. Ini mengingat kondisi inflasi juga akan memengaruhi daya beli masyarakat,” kata dia.
Yannes mengatakan, insentif PPnBM DPT sebesar 3% untuk Low Cost Green Car (LCGC) memiliki peran penting bagi industri otomotif. Apalagi, kurs dolar dan suku bunga naik.
“Insentif PPnBM 3% untuk LCGC cukup berperan penting dalam mendorong penjualan mobil, di tengah kenaikan dolar AS yang cukup signifikan, yang juga berakibat pada naiknya bunga bank saat ini di Indonesia,” ujar Yannes.
Sebelumnya, Sekretaris Menteri Koordinator bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebut pihaknya menerima masukan dari Gaikindo untuk menerapkan insentif PPnBM DTP. Susi, sapaan akrabnya, mengatakan PPnBM DTP dapat membantu meningkatkan penjualan kendaraan bermotor.
“Mereka (Gaikindo) menyampaikan kemarin semester satu, berdasarkan evaluasi, (penjualan mobil) turunnya agak signifikan untuk otomotif dari sisi demand,” katanya.
Susi mengatakan, Gaikindo melaporkan penurunan penjualan terjadi karena dua alasan, Pertama, berakhirnya penerapan PPnBM DTP pada 2023 dan pembatasan sektor leasing dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Dari pihak otoritas sektor keuangan banyak membatasi urusan leasing. Karena kan kepemilikan mobil di Indonesia itu jual 70-80% financing-nya dari leasing,” kata dia.
Mengenai realisasi pemberian insentif tersebut, lanjut Susi, pihaknya belum mengetahui kapan PPnBM DTP akan diterapkan. Sebab, proses pembahasannya melibatkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Elektrifikasi Diharapkan jadi Pendorong
Di sisi lain, Yohannes mencatat terjadi peningkatan penjualan mobil hybrid. Meski penjualan mobil listrik berbaterai (BEV) diprediksi hingga akhir tahun ini bisa mencapai 30.000 unit, dia menduga jumlahnya kalah dengan mobil hybrid.
Yohannes mengatakan tidak signifikannya lonjakan mobil listrik berbaterai karena terkait masalah pemenuhan kebutuhan infrastruktur, khususnya pengisian daya. Selain itu, mobil listrik berbaterai juga memiliki harga lebih tinggi. “Masyarakat masih memperhatikan itu,” ujar dia.
Elektrifikasi ini memang menjadi perhatian bagi industri otomotif. Anton menyebut semua booth jenama memamerkan inovasi mobil elektrik.
“Di semester I kami menjual kira-kira 13% produk Toyota adalah elektrifikasi. Ini meningkat 3% dibanding tahun lalu,” kata Anton.
Anton menyebut Zenix Hybrid dan Yaris Cross menjadi dua model kendaraan hybrid yang banyak dipesan selama GIIAS 2024. Ini menguatkan hipotesis pihak Toyota bahwa elektrifikasi diminati masyarakat.
