'Raja Obligasi' Ini Ramal AS Resesi Tahun 2024
Reporter | Taufiq Al Hakim
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Eksekutif DoubleLine Capital Jeffrey Gundlach memperkirakan Amerika Serikat akan resesi secepatnya tahun ini. Manajer keuangan perusahaan manajemen investasi yang sering dijuluki 'raja obligasi' ini menyebut, resesi itu dikarenakan suku bunga yang lebih tinggi memberikan tekanan pada konsumen dan perusahaan di AS.
Dilansir dari Reuters pada Minggu (26/5/2024), Gundlach mengungkapkan, sinyal-sinyal timbulnya masalah dalam perekonomian AS mulai terlihat. Ini seperti meningkatnya tunggakan kartu kredit dan data penjualan ritel yang lebih lemah, yang menunjukkan kemungkinan kontraksi ekonomi lebih cepat daripada risiko rebound inflasi.
“Ada banyak sinyal resesi di luar sana. Ada lebih banyak perasaan resesi dibandingkan perasaan inflasi,” kata Gundlach saat berbicara di webinar yang diselenggarakan oleh David Rosenberg, pendiri dan presiden Rosenberg Research.
Ia mengatakan, pihaknya menjauhi bagian paling berisiko dari pasar utang korporasi, seperti obligasi perusahaan dengan peringkat triple-C. Selain itu, investasi kredit swasta, karena ia memperkirakan gagal bayar utang perusahaan akan melonjak.
Khusus mengenai kredit swasta, ia menyebut, investor yang mencari keuntungan lebih tinggi di pasar swasta dibandingkan pasar utang publik menghadapi risiko terjebak pada aset-aset yang tidak likuid, jika terjadi perlambatan ekonomi yang tajam. “Tidak ada faktor yang membuat kredit swasta terlihat lebih baik daripada kredit publik saat ini. Ini lebih berisiko, tidak memberikan imbalan yang sama, ini adalah yang terburuk,” tandasnya.
Beban Utang Besar
Gundlach juga membeberkan, DoubleLine sangat terekspos terhadap utang pemerintah AS. Sementara itu, ada kekhawatiran atas kenaikan tingkat utang AS dan melonjaknya pembayaran bunga utang pemerintah, yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga.
“Saat ini kami memiliki lebih banyak Treasury dalam strategi kami, dibandingkan sebelumnya,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, beban utang yang semakin besar dapat menyebabkan perlunya restrukturisasi utang pemerintah AS. Hal ini suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Saya mendapat ide gila bahwa saya hanya ingin membeli Treasury dengan kupon terendah, karena jika saya memiliki Treasury dengan kupon sangat rendah, saya tidak perlu khawatir akan direstrukturisasi. Saya khawatir pemerintah federal mungkin terpaksa merestrukturisasi utang Departemen Keuangan," imbuhnya.
