Dipicu Kekhawatiran Perang Dagang dan Resesi, Yield USTreasury 10-Tahun Anjlok ke Level Terendah Sejak Oktober 2024
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil Treasury AS terus menurun pada Jumat (04/04/2025). Imbal hasil Treasury 10-tahun sempat anjlok di bawah 4%, setelah China membalas kebijakan tarif agresif yang digulirkan oleh Presiden Donald Trump. Para investor membanjiri pasar obligasi sebagai bentuk perlindungan karena ketakutan akan resesi global.
Baca Juga
Imbal Hasil USTreasury Anjlok, Pasar Tunggu Rincian Tarif AS
Imbal hasil Treasury 10-tahun turun 4 basis poin ke 4,015%, mencapai level terendah sejak Oktober 2024. Imbal hasil tersebut sebelumnya sempat menembus 4,8% awal tahun ini dengan harapan bahwa Trump akan menggairahkan ekonomi AS melalui pemotongan pajak.
Imbal hasil Treasury 2-tahun turun 5,5 basis poin dan diperdagangkan pada level 3,67%. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pada hari Jumat bahwa ia memperkirakan tarif Trump akan mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan. Ia mencatat bahwa bank sentral menghadapi “prospek yang sangat tidak pasti” akibat gelombang baru tarif yang diumumkan minggu ini.
Powell mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan siap mempertahankan suku bunga pada posisi saat ini sampai mereka memperoleh rincian lebih lanjut tentang dampak dari tarif tersebut.
Baca Juga
Powell Sebut The Fed Menunggu ‘Kejelasan’ Kebijakan Trump Sebelum Putuskan Suku Bunga
“Kami berada dalam posisi yang baik untuk menunggu kejelasan sebelum mempertimbangkan penyesuaian apa pun terhadap kebijakan kami. Terlalu dini untuk mengatakan apa jalur yang tepat bagi kebijakan moneter,” kata Powell dalam pidato yang telah disiapkan sebelumnya dan disampaikan kepada para jurnalis di Arlington, Virginia.
China pada Jumat pagi mengatakan akan memberlakukan tarif sebesar 34% terhadap semua barang AS mulai 10 April, menyusul serangan kebijakan Trump awal minggu ini yang mengakibatkan tarif efektif pada beberapa barang China bisa mencapai 54%.
Para investor telah membanjiri Treasury dalam beberapa hari terakhir sebagai bentuk perlindungan, mendorong imbal hasil turun, setelah pengguliran tarif Trump disahkan pada Rabu malam. Rencana tersebut, yang menetapkan tarif dasar 10% secara menyeluruh, berdampak pada lebih dari 180 negara dan mengguncang pasar global.
“Jelas, reli ini lebih berkaitan dengan perhitungan risiko perang dagang dibandingkan dengan data ketenagakerjaan bulan lalu. Jika ada, hal ini akan memperkuat posisi tawar Trump dan membuat The Fed tidak punya banyak ruang untuk bersikap dovish. Bagaimanapun juga, data ekonomi masih menunjukkan kinerja yang baik,” urai Ian Lyngen, direktur pelaksana dan kepala strategi suku bunga AS di BMO Capital Markets, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Allianz: Tarif Trump Justru Berisiko Dorong Perekonomian Amerika Serikat ke Arah Resesi
Imbal hasil 10-tahun telah merosot sejak akhir pekan lalu yang berada di kisaran 4,25% karena kekhawatiran bahwa perang dagang dapat menaikkan harga dan memperlambat ekonomi hingga menuju resesi.
JPMorgan pada Kamis malam menaikkan kemungkinan terjadinya resesi tahun ini menjadi 60% dari sebelumnya 40%.
Baca Juga
Survei CNBC Fed: Pertumbuhan Ekonomi AS Melambat, Kekhawatiran Resesi Meningkat
“Kebijakan-kebijakan ini, jika terus berlanjut, kemungkinan besar akan mendorong ekonomi AS dan mungkin juga ekonomi global ke dalam resesi tahun ini,” tulis Bruce Kasman, kepala ekonom global JPMorgan.
Laporan ketenagakerjaan federal yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan gambaran yang campur aduk dari pasar tenaga kerja. Payroll nonpertanian meningkat sebesar 228.000 pada bulan Maret, dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan payroll nonpertanian akan meningkat sebesar 140.000, dengan tingkat pengangguran 4,1%. Data pertumbuhan lapangan kerja dari bulan-bulan sebelumnya direvisi lebih rendah.
Imbal hasil memangkas sebagian kerugiannya untuk sesi tersebut setelah laporan pekerjaan dirilis.
Baca Juga
Payroll AS Maret Naik 228.000, tapi Tingkat Pengangguran Meningkat
“Memang, dengan meningkatnya kekhawatiran akan resesi, hasil yang lebih lemah dari perkiraan bisa menjadi ‘paku terakhir’ bagi ekonomi AS,” kata Julien Lafargue, kepala strategi pasar di Barclays Private Bank. Sayangnya, menurut dia, hasil yang lebih menggembirakan pun bisa dengan mudah dianggap ‘sudah usang’ mengingat prospek tarif signifikan yang akan menghantam pasar tenaga kerja AS.

